“Jangankan konsultasi dengan Pak Harto, dengan saya saja tidak,” kata Try sebagaimana tertuang dalam buku Salim “Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto”, dikutip Minggu (9/3/2026).
Try menuturkan, Hartas mengaku keceplosan ketika ditanya wartawan. Saat itu dia baru saja mengikuti taklimat di Departemen Dalam Negeri. “Saat ditanya siapa calon dari ABRI, dia bilang Try Sutrisno. Sudah itu Hartas datang kepada saya minta maaf dan siap dipecat akibat keceplosan itu,” ujar Try.
Tapi Hartas ternyata punya versi tersendiri. Dalam wawancara terpisah dengan Salim Said, tentara lulusan Akademi Militer Nasional 1960 itu mengaku ABRI mendorong Try karena dari dua nama yang muncul, Pak Harto telah memberikan isyarat.
“Tempat Habibie di bidang teknologi,” ujar Harto ditirukan Hartas.
Pernyataan itulah yang lantas ditafsirkannya bahwa penguasa Orde Baru tersebut lebih memilih Try. Karena ini pula dia tak ragu melontarkan nama Try saat diberondong pertanyaan para awak media.
Dipersiapkan Benny Moerdani
Dalam pandangan Salim Said, tidak mungkin Hartas keceplosan begitu saja. Memunculkan nama Try ke publik bukan suatu ketidaksengajaan, melainkan memang sudah keputusan kolektif pimpinan ABRI. Hartas, kata Salim, lebih bertindak sebagai juru bicara dan operator lapangan mereka.