Pikiran ini diperkuat dengan pernyataan mantan Pangab Jenderal TNI Benny Moerdani dalam wawancara dengan Michael RJ Vatikiotis dari majalah Far Eastern Economic Review. Benny menyebut, kesepakatan para jenderal mencalonkan Try ternyata sudah diputuskan lima tahun sebelumnya alias pada 1988!
“Kami memutuskannya lima tahun silam. Kami putuskan setelah Sudharmoni terpilih pada 1988, ABRI harus mendudukan jabatan wakil presiden berikutnya. Kami putuskan mempersiapkan Try Sutrisno,” kata Benny.
Sempat Menolak
Try sesungguhnya berulang kali menolak ketika namanya didorong-dorong sebagai calon pendamping Soeharto. Bahkan ketika Fraksi ABRI di MPR disebut sudah sepakat memilihnya, jenderal lulusan Atekad Bandung ini tetap bergeming.
Penolakan ini bukan tanpa sebab. Jenderal dari korps Zeni itu sangat paham ada mekanisme tersendiri untuk menentukan cawapres. Sebagai ketua jalur A (ABRI) dalam Keluarga Besar Golkar, urusan pencalonan wapres tidak bisa digulirkan begitu saja.
“Tapi juga harus dirundingkan dengan ketua umum Golkar dan ketua jalur B (birokrasi) KBG,” tulis buku biografi “Jenderal Try Sutrisno, Sosok Arek Suroboyo,” yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AD.
Asal diketahui, pada masa itu pencalonan wapres biasanya dilakukan tim kecil. Mereka bertugas mencari dan menyaring nama-nama potensial. Setelah itu baru disodorkan kepada Harto untuk dipilih.