Pengamat Transportasi Anton Budiharjo, mengatakan kemacetan di pintu tol pada saat mudik kali ini merupakan gejala klasik,suatu fenomena bottleneck kapasitas akibat sistem transaksi.
“Dalam teori lalu lintas, kapasitas ruas jalan akan turun signifikan ketika terdapat titik gangguan atau friction point, seperti gerbang tol yang mengharuskan kendaraan melambat atau berhenti,” ujarnya.
Saat ini kata dia, sistem masih menggunakan transaksi tapping dengan e-money. Padahal volume lalu lintas meningkat hingga 2–3 kali lipat. Waktu layanan per kendaraan di gate berkisar antara 4–5 detik. Dalam kondisi arus puncak, selisih waktu beberapa detik saja dapat terakumulasi menjadi antrean panjang.
Akibatnya, terjadi hambatan berupa bottleneck yang membuat antrean menumpuk hingga ke lajur utama dan mengganggu arus lalu lintas mudik. Jadi, persoalan utamanya bukan hanya tingginya volume kendaraan, tetapi juga ketidakseimbangan antara kapasitas layanan di gerbang tol dengan lonjakan permintaan yang bersifat musiman.
Menurut dia, ada solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan kemacetan di pintu tol. Selain itu, dapat diterapkan manajemen lajur dan rekayasa lalu lintas lainnya, seperti contraflow dan kebijakan sejenis.
Namun secara struktural, solusi paling efektif adalah menghilangkan titik henti tersebut. Inti permasalahannya adalah adanya friction point di tengah jalan tol. Jika titik henti ini dihilangkan, arus lalu lintas akan menjadi free flow.