JAKARTA - Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, dengan tegas menolak syarat-syarat gencatan senjata yang didukung AS antara Israel dan Lebanon. Dalam pernyataannya, Hizbullah mengatakan bahwa negosiasi dengan Israel telah "sia-sia" dan "memalukan" bagi Lebanon, serta ditolak secara kategoris oleh "sebagian besar rakyat Lebanon".
Penolakan keras Hizbullah ini terjadi setelah Israel dan Lebanon mengumumkan pembaruan gencatan senjata mereka yang rapuh dengan pembentukan zona keamanan "percontohan" di dalam Lebanon, yang mana anggota Hizbullah akan dilarang masuk.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Rabu (3/6/2026) oleh Departemen Luar Negeri AS, ketiga negara tersebut mengatakan kesepakatan itu "bergantung pada penghentian total" tembakan oleh Hizbullah.
Namun, dalam tanggapannya pada Kamis (4/6/2026), pemimpin Hizbullah, Naim, mengatakan bahwa "gencatan senjata yang dimaksud", yang diartikan sebagai penghentian tembakan dan penarikan pasukan Hizbullah dari front selatan dengan Israel, sama dengan penyerahan diri dan akan memenuhi tujuan Israel.
Suasana serupa juga terasa di jalan-jalan pinggiran selatan Beirut — benteng Hizbullah yang juga dikenal sebagai Dahieh — dengan seorang pemilik toko yang menyatakan keraguan tentang kesepakatan tersebut.
"Anda tidak bisa mendapatkan gencatan senjata dari satu pihak saja, ini akan menjadi gencatan senjata dari semua pihak atau tidak ada gencatan senjata sama sekali," kata Sami, warga yang telah menjalankan bisnisnya di sana selama 25 tahun, kepada BBC.
Pada Kamis, militer Zionis kembali melancarkan serangan ke Lebanon meski gencatan senjata diumumkan telah berlaku.
“Jika ini seharusnya menjadi gencatan senjata, lalu apa artinya?,” ujarnya.
"Ini adalah penyerahan diri. Ini bukan perjanjian perdamaian. Ini adalah perjanjian penyerahan diri," tambah dia.
Kesepakatan antara Israel dan Lebanon, yang dicapai setelah putaran keempat pembicaraan yang dimediasi AS di Washington, bergantung pada "evakuasi semua anggota (Hizbullah)" dari area antara perbatasan Israel dan Sungai Litani, sekitar 30 km (19 mil) ke utara, yang saat ini diduduki oleh pasukan darat Israel.
Menurut kesepakatan tersebut, AS akan membantu memandu pembentukan "zona percontohan di mana Angkatan Bersenjata Lebanon akan mengambil kendali eksklusif atas wilayah tersebut dengan mengesampingkan semua aktor nonnegara".
Kesepakatan itu tidak menyertakan peta apa pun untuk menunjukkan di mana zona percontohan akan berada, atau penjelasan tentang bagaimana zona tersebut dapat berfungsi dalam praktiknya.
Kesepakatan itu menyusul gencatan senjata parsial yang diumumkan pada Senin (1/6/2026), yang menurut Lebanon akan membuat Israel menahan diri dari membom ibu kota Lebanon, Beirut, sebagai imbalan atas tidak adanya serangan Hizbullah terhadap Israel.
Perwakilan kedua negara akan bertemu lagi pada 22 Juni untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut "dengan tujuan mencapai kesepakatan komprehensif".
Hizbullah, milisi Muslim Syiah, partai politik, dan gerakan sosial, adalah kelompok paling kuat di Lebanon. Dengan dukungan dari Iran, mereka telah membangun angkatan bersenjata yang lebih tangguh daripada tentara Lebanon dan telah terlibat dalam serangkaian konflik dengan Israel. Mereka ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel dan banyak negara lain, termasuk Inggris dan AS.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengatakan gencatan senjata "dapat diimplementasikan dalam waktu 24 jam setelah persetujuan akhir" oleh semua pihak terkait.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan militer Israel "untuk sementara waktu akan melanjutkan tembakan dan operasi di darat" untuk "menghancurkan infrastruktur teroris di daerah tersebut".
Media Lebanon melaporkan beberapa serangan Israel di seluruh Lebanon selatan pada Kamis.
Kantor Berita Nasional (NNA) yang dikelola negara mengatakan lima orang tewas dalam serangan udara di kota Sohmor di Lembah Bekaa pada hari Kamis, dan satu orang lagi tewas ketika sebuah sepeda motor menjadi sasaran pesawat Israel di kota Maaroub, dekat kota Tyre.
Pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) sementara itu mengatakan salah satu penjaga perdamaiannya meninggal karena luka yang dideritanya ketika peluru mortir menghantam posisinya di dekat Marjayoun pada Rabu malam.
Kementerian Pertahanan Serbia mengidentifikasinya sebagai Sersan Senior Milovan Jovanovic, salah satu dari sekitar 170 pasukan penjaga perdamaian Serbia dalam pasukan yang berjumlah 7.500 orang.
Militer Israel menuduh Hizbullah menembakkan mortir yang mendarat di dalam posisi PBB semalam. Kelompok tersebut belum memberikan komentar mengenai insiden tersebut.
Lebanon terseret ke dalam perang antara AS, Israel, dan Iran pada 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel merespons dengan kampanye udara di seluruh Lebanon dan invasi darat di selatan.
Gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon pada 16 April gagal menghentikan pertempuran, dan pekan lalu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk mengintensifkan serangannya terhadap Hizbullah dan maju lebih dalam ke Lebanon sebagai tanggapan terhadap serangan drone dan roket terhadap komunitas di Israel utara.
Setidaknya 3.526 orang telah tewas di Lebanon sejak awal perang, menurut kementerian kesehatan negara itu. Angka-angka tersebut tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil.
PBB mengatakan lebih dari satu juta orang juga telah mendaftarkan diri sebagai pengungsi di Lebanon, di mana perintah evakuasi Israel mencakup lebih dari seperdelapan wilayah negara itu.
Israel mengatakan 26 tentaranya dan empat warga sipil Israel telah tewas di kedua sisi perbatasan selama perang.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.