JAKARTA - Sebanyak 81,3 persen masyarakat menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Temuan tersebut merupakan hasil survei Litbang FSP BUMN Bersatu yang digelar pada 27 Juli-3 Agustus 2026.
Metode yang digunakan multistage random sampling terhadap 1.243 responden, margin of error +/- 2,78 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Prabowo dianggap responden sebagai sosok pemimpin yang tercerahkan (enlightening leader), yakni pemimpin yang memiliki kesadaran tinggi, memberi teladan, menginspirasi, serta memandang kepemimpinan sebagai amanah dan pengabdian. Survei tersebut juga menunjukkan persepsi positif publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka di sejumlah bidang.
Sebanyak 86,2 persen responden menyatakan puas dan sangat puas terhadap kinerja di bidang politik, sedangkan 82,7 persen memberikan penilaian serupa untuk bidang hukum. Pada sektor pendidikan dan bantuan sosial, 84,3 persen responden menilai pemerintah konsisten dan baik.
Dalam simulasi jika Pilpres digelar saat ini, Prabowo juga memperoleh dukungan tertinggi dengan 70,2 persen, disusul Dedy Mulyadi 8,5 persen, Anies Baswedan 6,9 persen, Gibran 6,4 persen, AHY 4,3 persen, dan Ahok 2,1 persen, sementara 1,6 persen tidak memberikan jawaban.
Di tengah tingginya kepuasan terhadap kinerja pemerintahan, survei menemukan kondisi ekonomi rumah tangga yang masih menjadi perhatian. Sebanyak 53,6 persen responden menilai kondisi ekonomi saat ini buruk, 25,4 persen menganggap biasa saja, 18,2 persen tidak khawatir tetapi memperkirakan kondisi dapat berubah, dan 2,8 persen tidak menjawab.
Faktor yang dinilai paling memengaruhi kondisi tersebut adalah ketidakpastian global sebesar 57,5 persen, penurunan pendapatan 20,8 persen, serta kenaikan harga-harga sebesar 20,3 persen. Kondisi ekonomi tersebut turut berdampak pada stabilitas keuangan keluarga. Sebanyak 48,3 persen responden menyebut kondisi ekonomi keluarganya tidak menentu, 30,1 persen masih merasa aman karena memiliki tabungan sebagai jaring pengaman, 14,3 persen menilai kondisi ekonominya bergejolak, dan 5,2 persen menyatakan sudah kritis.
Survei juga mencatat tingkat kerentanan ekonomi yang tinggi, dengan 63,8 persen responden berada dalam kondisi sangat rentan, 30,1 persen merasa aman karena memiliki tabungan, dan 6,1 persen tidak memberikan jawaban.
Kerentanan tersebut juga terlihat dari persoalan pekerjaan. Sebanyak 57,4 persen responden merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan, 27,7 persen menilai masih tersedia pekerjaan, 12,8 persen mengatakan pekerjaan terkadang tersedia, sementara 5,2 persen menilai kondisinya sudah kritis dan 2,4 persen tidak menjawab.
Beban ekonomi terbesar yang dirasakan masyarakat adalah mahalnya harga bahan pokok dengan angka 57,8 persen, disusul ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) sebesar 21,9 persen dan tidak adanya tabungan atau dana darurat sebesar 18,3 persen, sedangkan 2 persen tidak memberikan jawaban.
Meski menghadapi tekanan ekonomi, keyakinan masyarakat terhadap prospek perekonomian masih berada di zona optimistis. Sebanyak 74,8 persen responden percaya kondisi ekonomi akan membaik. Namun, terdapat sinyal kehati-hatian karena 21,6 persen memperkirakan kondisi ekonomi ke depan kembali melemah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki optimisme terhadap perbaikan ekonomi makro, tetapi pada saat bersamaan menghadapi tekanan langsung dalam kehidupan rumah tangga.
“Meskipun di beberapa hal dalam hasil survey ini menggambarkan persepsi positif dari publik, namun factor Factor kondisi terkini dan trend keadaan ekonomi nasional yang terpotret di masyarakat harus menjadi catatan tebal bagi pemerintahan Prabowo Gibran,” kata Departemen Head Litbang FSP BUMN Bersatu Tri Widodo Sektianto dalam keterangannya, dikutip Senin (10/8/2026).
Menurut hasil survei, kondisi tersebut merupakan tren yang juga terlihat jika dibandingkan dengan survei Januari 2026. Sebanyak 34,2 persen responden mengaku pendapatannya menurun, sementara lebih dari 36,1 persen masyarakat yang menjalankan usaha mengeluhkan omzet yang lesu.
Situasi itu memperlihatkan adanya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, terutama terkait pendapatan, kesempatan kerja, harga kebutuhan pokok, serta ketersediaan dana darurat.
Survei FSP BUMN Bersatu menyimpulkan kepuasan terhadap kepemimpinan Prabowo masih tinggi, mencapai 81,3 persen, sementara penilaian terhadap bidang politik, hukum, pendidikan, dan bansos juga berada pada tingkat positif. Di sisi lain, ketakutan terhadap kenaikan harga pangan, sulitnya memperoleh pekerjaan, serta minimnya jaring pengaman finansial menjadi catatan serius bagi kondisi ekonomi masyarakat.
Tingginya kepuasan di bidang politik dan hukum diharapkan dapat memperkuat kepercayaan dunia usaha dan masyarakat sehingga berdampak pada perbaikan perekonomian. Hasil survei juga menunjukkan adanya harapan terhadap pemerintah untuk memperbaiki kinerja ekonomi seiring kuatnya optimisme masyarakat terhadap perbaikan ekonomi makro.
Kendati pandangan masyarakat terhadap prospek ekonomi hingga akhir 2026 mulai lebih hati-hati. Dalam simulasi Pilpres apabila digelar saat ini, Prabowo tetap menjadi tokoh dengan tingkat keterpilihan tertinggi, menunjukkan bahwa di tengah berbagai persoalan ekonomi, persepsi publik terhadap kepemimpinannya masih cenderung positif.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.