"Fiskal adalah salah satu pengungkitnya, program nasional adalah penggeraknya, tetapi daerah adalah tempat di mana pertumbuhan itu diwujudkan. Ketika fiskal mengalir melalui Makan Bergizi Gratis, misalnya, petani, peternak, nelayan, dan usaha rakyat bergerak dalam orkestrasi ekonomi yang sama. Itulah yang kita sebut sebagai spiral Asta Cita," katanya.
Tamsil menambahkan, kebijakan nasional perlu memperhatikan karakter dan potensi masing-masing wilayah. Menurutnya, Indonesia memiliki kondisi geografis dan basis ekonomi yang beragam sehingga pendekatan pembangunan tidak dapat sepenuhnya diseragamkan.
"Indonesia bukan satu wajah. Ada kepulauan, perbatasan, daerah dengan sumber daya alam besar, daerah agraris, daerah maritim, kawasan industri, dan daerah yang menghadapi tantangan geografis yang sangat berat. Kebijakan harus mampu membaca keragaman itu," tuturnya.
Dia menegaskan daerah harus ditempatkan sebagai subjek sekaligus mesin pertumbuhan. Setiap daerah memiliki keunggulan komparatif dan tantangan berbeda yang perlu didukung kebijakan nasional agar berkembang menjadi keunggulan kompetitif.
"Ketika setiap daerah tumbuh sesuai potensinya, maka kita sedang menyusun mozaik kekuatan Indonesia," ujarnya.
Tamsil berharap gaung Asta Cita dapat dirasakan seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Tidak boleh ada wilayah yang merasa berada di pinggir republik maupun potensi daerah yang terhambat karena keterbatasan akses.