"Sekali memilih masuk ke jebakan para politisi, ke depan NU tidak bisa kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang ada," kata Hatim.
Karena itu, Hatim berpandangan calon Ketua Umum PBNU harus merupakan figur yang mampu diterima berbagai kelompok, tidak memiliki afiliasi dengan partai politik, tidak sedang menduduki jabatan publik, dan memiliki akar kuat dari tradisi pesantren. Ia juga mendorong munculnya kepemimpinan muda yang transformatif dengan merujuk kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang memimpin PBNU pada usia 43 tahun.
"Muda bukan hanya dalam pengertian umur, tetapi secara substansi mampu memahami dan mendalami dinamika generasi muda," katanya.
Sejumlah nama yang berlatar belakang pesantren pun mulai diperbincangkan sebagai kandidat Ketua Umum PBNU. Mereka antara lain Yahya Cholil Staquf, Nasaruddin Umar, Zulfa Mustofa, Abdussalam Shohib (Gus Salam), Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Abdul Ghofar Rozin, serta Abdul Hakim Mahfuds (Gus Kikin).
Sekretaris Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, Inayah Wulandari Wahid, menilai independensi Ketua Umum PBNU menjadi faktor penting dalam mengembalikan marwah organisasi sesuai dengan Khittah NU.
"NU bukan organisasi yang antipolitik, tetapi harus bisa membedakan secara tegas antara politik kebangsaan dan politik praktis untuk mengejar kekuasaan. Posisi NU harus berdiri bersama rakyat, bukan menjadi arena pertarungan kepentingan," tuturnya.