Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Marak Kecelakaan Laut, Berikut Sederet Faktor Penting Keselamatan Kapal

Binti Mufarida , Jurnalis-Senin, 14 September 2026 |23:02 WIB
Marak Kecelakaan Laut, Berikut Sederet Faktor Penting Keselamatan Kapal
Kecelakaan laut (Foto: Ilustrasi AI)
A
A
A

“Berdasarkan regulasi, nakhoda wajib melakukan passage planning (perencanaan pelayaran) dari dermaga ke dermaga (berth to berth). Nakhoda harus memetakan pola arus permukaan, memperhitungkan efek pasang surut (tidal stream), serta mengalkulasi leeway dan set & drift sebelum melintasi wilayah perairan berarus deras atau selat yang sempit,” ujarnya.

Selain itu, kata Daryono, pemahaman terhadap tinggi gelombang tidak boleh disamaratakan di seluruh wilayah perairan. Gelombang setinggi 2 meter di Samudra Hindia yang berair dalam mungkin tergolong relatif aman bagi kapal menengah-besar karena memiliki periode gelombang yang panjang. Namun, gelombang setinggi 2 meter di perairan dangkal (kedalaman 0 hingga 200 m) seperti Laut Jawa atau lintasan penyeberangan antarpulau dapat menjadi fenomena yang sangat ekstrem dan berbahaya.

“Perubahan kedalaman yang mendadak menyebabkan puncak gelombang menjadi curam dan pecah (breaking waves), yang berpotensi menghantam lambung kapal ferry secara destruktif. Dari sudut pandang keselamatan pelayaran, nakhoda harus memahami interaksi antara tinggi gelombang, periode gelombang, serta kedalaman perairan (shoaling effect) untuk menilai tingkat bahaya yang sebenarnya terhadap tipe kapal yang dinahkodai,” ujarnya.

Daryono menjelaskan sesuai ketentuan pasal-pasal keselamatan navigasi internasional dan Peraturan Pemerintah terkait Pelayaran, nakhoda diwajibkan selalu memegang dan memantau informasi cuaca resmi (official weather forecast) yang diterbitkan oleh badan meteorologi nasional (BMKG).

Pengawasan tidak hanya terbatas pada kondisi cuaca saat bertolak, melainkan pemantauan secara berkelanjutan sepanjang rute pelayaran. Nakhoda harus mampu menganalisis pemicu utama gelombang, yaitu sirkulasi angin, baik berupa fenomena angin monsun, pusat tekanan udara rendah, maupun potensi badai tropis.

Memahami asal pergerakan angin dan potensi perubahan mendadak, seperti angin kencang berdurasi singkat (squall line), memungkinkan nakhoda menentukan keputusan krusial, seperti menyesuaikan kecepatan, mengubah rute (weather routing), atau berlindung (seek shelter) sebelum cuaca buruk menghantam.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement