“Memimpin sebuah Polda membutuhkan kemampuan mengelola organisasi sekaligus menjaga hubungan dengan masyarakat, pemerintah daerah, TNI, dan seluruh pemangku kepentingan. Pengalaman seperti ini tentu menjadi bagian penting dalam pembentukan seorang pemimpin,” katanya.
Karier Suyudi kemudian memasuki fase berbeda pada 2025. Ia tercatat sebagai Pati Bareskrim Polri dalam penugasan luar struktur sebelum dipercaya menjadi Kepala BNN RI.
Bimo menilai pengalaman memimpin BNN memberikan dimensi tambahan dalam perjalanan kepemimpinan Suyudi. Sebab, persoalan narkotika tidak hanya berkaitan dengan penindakan, tetapi juga pencegahan, rehabilitasi, pemutusan jaringan, hingga koordinasi lintas lembaga.
“Narkotika merupakan ancaman serius bagi generasi bangsa. Pengalaman memimpin BNN tentu memperluas perspektif kepemimpinan karena yang dihadapi bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga pencegahan, rehabilitasi, dan bagaimana menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba,” tegas Bimo.
Kendati demikian, diakui Bimo, rekam jejak seorang pimpinan tidak semata-mata diukur dari banyaknya jabatan yang pernah diduduki. Menurutnya, hal terpenting adalah pengalaman yang diperoleh dari setiap penugasan dan bagaimana pengalaman tersebut digunakan ketika mengemban tanggung jawab lebih besar.
“Bagi saya, bukan soal panjangnya daftar jabatan. Yang penting adalah bagaimana pengalaman dari setiap jabatan itu menjadi bekal untuk mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi persoalan yang semakin kompleks,” katanya.