Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Laporan: Arab Saudi Siapkan Serangan Besar ke Yaman, Libatkan 100 Ribu Lebih Tentara

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 04 Oktober 2026 |01:30 WIB
Laporan: Arab Saudi Siapkan Serangan Besar ke Yaman, Libatkan 100 Ribu Lebih Tentara
Ilustrasi.
A
A
A

RIYADH — Arab Saudi dilaporkan tengah merencanakan serangan besar-besaran di Yaman untuk merebut kembali kawasan strategis yang dikuasai pemberontak Houthi sejak bulan lalu. Kawasan tersebut merupakan jalur kunci yang mengontrol akses ke Laut Merah. Demikian dilaporkan Reuters pada Jumat (2/10/2026) dengan mengutip keterangan pejabat Teluk, pejabat Yaman, serta diplomat Barat.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa lebih dari 100.000 prajurit pemerintah Yaman berpeluang dikerahkan dalam operasi ini, bergantung pada skala pertempuran yang disepakati. Serangan tersebut nantinya akan dipimpin oleh Arab Saudi dengan dukungan serangan udara. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat yang memberikan bantuan intelijen serta logistik diperkirakan tidak akan terlibat langsung dalam operasi tempur di lapangan.

Pihak Arab Saudi dikabarkan sedang mempertimbangkan dua skenario serangan: berfokus merebut kembali wilayah pesisir di sekitar Selat Bab el-Mandeb—yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia—atau menggelar operasi militer serentak di sejumlah front, meliputi Al-Bayda, Marib, Taiz, dan Al-Jawf.

Arab Saudi pertama kali melakukan intervensi militer di Yaman pada 2015 guna mendukung pemerintah resmi yang diakui secara internasional usai digulingkan kelompok Houthi dari ibu kota Sanaa. Intensitas pertempuran berskala besar sempat menurun signifikan setelah tercapainya gencatan senjata yang difasilitasi PBB pada 2022.

Namun, eskalasi kembali memanas bulan lalu setelah kelompok Houthi menuduh Riyadh menerapkan blokade ilegal terhadap Yaman. Sejak saat itu, kelompok pemberontak tersebut berhasil menguasai pelabuhan strategis Mokha dan Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb.

Pada Jumat, kelompok Houthi mengklaim bahwa pasukan Saudi telah melancarkan 94 serangan ke wilayah kekuasaan mereka dalam kurun 24 jam terakhir. Omar al-Bukhaiti, juru bicara pemerintah bentukan Houthi di Sanaa, menuding kerajaan tersebut sengaja menyasar fasilitas sipil, termasuk sekolah dan pusat layanan kesehatan.

 

Sebelumnya, Houthi kerap meluncurkan pesawat nirawak (drone) dan rudal ke wilayah Arab Saudi dengan sasaran fasilitas energi. Meski demikian, mereka membantah telah menyerang pembangkit listrik di Madinah—salah satu kota suci umat Islam—dan menepis klaim pemerintah Saudi tersebut sebagai sebuah "kebohongan."

Eskalasi ketegangan di Yaman terjadi di tengah memanasnya konflik antara AS dan Iran, yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz bagi sebagian besar jalur pelayaran, serta buntu penanganan perundingan diplomatik kedua negara.

Sejumlah negara sekutu Arab Saudi dilaporkan ikut meningkatkan dukungan militer. Inggris telah menyetujui penyediaan layanan pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat tempur Saudi, sementara Prancis mengirimkan personel, sistem radar, dan pertahanan udara guna mengamankan pusat minyak Yanbu di Laut Merah.

Selain itu, Pakistan dikabarkan telah mengerahkan 30.000 hingga 40.000 personel militer ke Arab Saudi untuk membantu mengamankan wilayah perbatasan serta mencegat potensi serangan rudal dan drone. Islamabad juga memasok sistem pertahanan udara, artileri, hingga peralatan anti-drone, sembari menugaskan penasihat militer untuk berkolaborasi dengan personel Saudi. Namun, pemerintah Pakistan menegaskan belum memutuskan untuk mengirimkan pasukannya langsung ke dalam wilayah Yaman.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement