MEDAN – Tiga organisasi jurnalis memboikot lomba foto dan video digelar Pusat Penerangan (Puspen) TNI. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes atas kekerasan dilakukan prajurit TNI Angkatan Udara terhadap wartawan dan warga di Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, pada Senin 15 Agustus 2016.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, Pewarta Foto Indonesia (PFI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumut kompak bersikap menolak berpartisipasi dalam lomba bertema "Bersama Rakyat TNI Kuat, Hebat dan profesional" itu.
Penanganan kasus penganiayaan dua jurnalis di Medan oleh prajurit TNI AU saat meliput bentrokan di Sari Rejo prosesnya dinilai berjalan lambat. Pihak POM TNI AU yang menerima laporan para jurnalis korban penganiayaan dan pelecehan terkesan tidak serius menangani kasus yang diadvokasi oleh Tim Advokasi Pers Sumatera Utara ini.
“Sebagai bentuk solidaritas kepada sesama rekan jurnalis yang menjadi korban penganiayaan dan pelecehan yang dilakukan oleh prajurit TNI AU, maka Aliansi Jurnalis Independen Medan menyatakan memboikot lomba foto dan video yang diadakan oleh Puspen TNI dalam rangka menyambut HUT ke-71 TNI,” kata Ketua AJI Medan, Agoez Perdana, Selasa (30/8/2016).
Dia menambahkan, sebelum TNI AU serius menangani kasus penganiayaan dan pelecehan terhadap sejumlah jurnalis, pihaknya mengimbau kepada seluruh anggota AJI untuk tidak meliput atau mengikuti kegiatan apapun yang dilakukan oleh TNI.