Menurut Aris, fakta yang dipaparkan dalam Pansus bukan sekedar masalah etik biasa yang dilakukan Novel. Sebab masalah email itu seperti laiknya puncak gunung es.
"Gini, kan (Dirdik KPK) itu kosong lama, kemudian saya masuk, saya tidak tahu perkembangan seperti apa. Saya bilang di DPR, ingatlah perkara saya, saya dikirimi email, meski mereka menilai itu hanya masalah etik, tapi bagi saya tidak seperti itu, rangkaiannya panjang sekali. Dan puncak dari itu, dia (Novel Baswedan) tuduh saya tidak berintegritas, terburuk sepanjang, hmm, itu," kata Aris.
Aris menambahkan, bahwa rekam jejaknya sudah sangat jelas selama ini. Bahkan, publik menurut Aris bisa melacak ke sejumlah daerah di Indonesia, di mana dirinya pernah bertugas sebagai anggota Polri.
"Saya tidak usah ngomong. Urasan wartawan, misalnya koran apa, pastikan ada cabangnya di sana, di Pekalongan saya seperti apa di sana, di Jawa Tengah seperti apa saya di sana? Tanyalah kawan-kawan di sana, angota-anggota saya di sana. Kalau saya dibilang tak integritas, wong tak pernah kok saya lakukan pelanggaran sebagainya," kata mantan Kapolresta Pekalongan itu.
Bukan cuma dalam bekerja, klaim Aris, ia pun sangat melarang keras, anak, istri serta keluarganya memakai otoritasnya untuk melakukan hal-hal tertentu, apalagi menyalahi peraturan perundang-undangan.