BANDUNG - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengumumkan hasil penelitian yang dilakukan timnya terkait gempa yang terjadi di Lombok.
Total, ada tiga kali gempa dengan kekuatan cukup besar. Gempa pertama pada 29 Juli dengan kekuatan 6,4 SR, gempa kedua pada 5 Agustus berkekuatan 7 SR, dan ketiga pada 9 Agustus dengan kekuatan 6,2 SR.
Kepala PVMBG Kasbani mengatakan gempa berkekuatan 6,4 SR mengakibatkan kerusakan berat yang terkonsentrasi di Desa Obel-obel, Dusun Ketapang, dan Desa Sajang.
"Di ketiga lokasi tersebut ditemukan retakan-retakan tanah yang berarah barat-timur. Retakan ini menyebabkan kerusakan berat pada bangunan yang dilaluinya," kata Kasbani dalam konferensi pers di Kantor PVMBG, Kota Bandung, Senin (13/8/2018).
Untuk gempa berkekuatan 7,0 SR, kerusakan berat terkonsentrasi di Desa Selengan, Desa Kayangan, dan Desa Sambik. Menurutnya, daerah-daerah tersebut tersusun oleh kuarter berupa rombakan gunung api muda yang telah mengalami pelapukan dan endapan aluvial pantai. Karakteristik dari endapan kuarter ini cenderung memperbesar guncangan gempa bumi.
Berdasarkan pengamatan lapangan dan pemetaan detail, di lokasi memperlihatkan adanya deformasi di permukaan atau sesar permukaan, dan retakan tanah yang mengakibatkan kerusakan jalan dan bangunan.
Sesar permukaan baru pun ditemukan di Desa Sambil Bengkol, Desa Kayangan, dan Desa Selengan. "Tim tanggap darurat Badan Geologi menyebut sesar permukaan ini sebagai Sesar Naik Lombok Utara berarah barat-timur yang membentu suatu zona sesar dengan sebaran utara-selatan," tuturnya.
"Sesai Naik Lombok Utara ini diperkirakan berasosiasi dengan Sesar Naik Busur Belakang Flores yang hingga kini diidentifikasi sebarannya di Laut Flores sebelah utara Pulau Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Wetar. Sesar permukaan ini yang menyebabkan kerusakan parah daerah yang dilaluinya," jelas Kasbani.
Untuk gempa besar ketiga dengan kekuatan 6,2 SR juga mengakibatkan kerusakan di sejumlah titik. Sejumlah bangunan selain rusak juga ada yang runtuh.
Sementara khusus untuk aktivitas vulkanik di Gunung Agung dan Rinjani, hingga saat ini PVMBG tidak mencatat ada peningkatan pasca gempa bumi. Gunung Rinjani masih berstatus Waspada dan Gunung Agung Siaga.
PVMBG pun mengeluarkan sejumlah rekomendasi teknis berdasarkan hasil penelitiannya. Salah satunya, PVMBG mengimbau masyarakat waspada dengan gempa bumi susulan yang bisa kapan saja terjadi.
Tapi, masyarakat diimbau lebih mengacu informasi pada pihak-pihak terkait seperti BPBD dan pemda. PVMBG juga merekomendasikan agar bangunan vital, strategis, dan mengundang banyak konsentrasi orang agar dibangun mengikuti kaidah-kaidah bangunan tahan gempa bumi.
Rekomendasi lain, bangunan yang terletak pada zona pergeseran tanah dan retakan tanah dalam dimensi besar dan panjang agar digeser 20 meter dari retakan utama, yaitu di Desa Sambil Bengkol, Desa Kayangan, dan Desa Selengan.
Yang tak kalah penting, PVMBG merekomendasikan agar pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan Timur segera merevisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) berdasarkan peta kawasan rawan bencana geologi yang dikeluarkan Badan Geologi.
"Terakhir, agar pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur memasukkan materi kebencanaan geologi ke dalam kurikulum pendidikan," tandas Kasbani.
(Khafid Mardiyansyah)