Lewat Lukisan dan Artefak, Belanda Hadapi Masa Lalu sebagai Bangsa Penjajah

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Minggu 06 Juni 2021 06:54 WIB
Lukisan karya Jacob Coeman menggambarkan perbudakan di Belanda. (Foto : BBC)
Share :

Fokus pada aspek sosial, alih-alih sejarah ekonomi perbudakan, adalah hal penting ketika hendak memaparkan kisah mereka yang diperbudak, "orang-orang dengan nama dan kisah, ketimbang 'budak' tanpa nama yang dilabeli 'kargo' dalam arsip," ujar Sint Nicolaas.

Kesaksian langsung dari orang-orang yang diperbudak sungguh jarang mengingat membaca dan menulis dilarang di sebagian besar wilayah jajahan. Karena itu, tim museum harus memeriksa ulang semua objek koleksi secara kritis, memaknai sumber tulisan kontemporer secara hati-hati, dan menggunakan sejarah lisan guna memaparkan kisah mereka.

Koleksi benda-benda di museum, seperti "troncos" yang digunakan untuk membelenggu kaki budak serta "kappa" yang digunakan sebagai ceret di perkebunan gula, membantu orang-orang memvisualisasikan pengalaman mereka yang dperbudak.

Kappa terkait dengan kisah Wally, seorang budak pria yang dipaksa bekerja di perkebunan gula di Suriname.

Kisah bermula ketika pemilik baru meniadakan libur hari Sabtu sembari menerapkan sistem izin untuk meninggalkan perkebunan. Tindakan ini memicu seluruh budak kabur beramai-ramai ke wilayah hutan di sekitar perkebunan.

Saat para budak ditangkap, 19 orang diampuni. Namun, pemimpin mereka, termasuk Wally, disiksa hingga meninggal perlahan.

Kehororan kisah ini menjadi lebih mengena karena bersifat personal. Apalagi Wally dan rekan-rekannya diperlakukan secara keji atas dasar argumen agama yang diciptakan untuk kekayaan.

Mengingat Marten Soolmans membeli bahan baku gula dari makelar, apakah dia mengetahui kebrutalan sistem yang memproduksinya?

Seberapa jauh rakyat Belanda memahami penyiksaan di wilayah jajahan diakui Smulders perlu dikaji lebih dalam.

"Orang-orang bisa tahu melalui keluarga. Orang-orang kelas atas yang pergi ke wilayah jajahan bisa melihat perbudakan dan awak kapal bisa melihat perbudakan dari dekat. Jadi khalayak bukannya tidak tahu apa yang sedang terjadi saat itu," kata Smulders.

Kalaupun dia dan istrinya, Oopjen, tidak tahu kekejian perbudakan, mereka mestinya tahu ada orang-orang yang lolos dari perbudakan karena mereka kemungkinan melihat mereka saat menuju studio Rembrandt. Pasalnya, studio milik pelukis tersohor itu berada di area yang dihuni komunitas orang-orang kulit hitam terbanyak di Amsterdam pada abad ke-17.

Bahwa ada populasi orang kulit hitam sangat mungkin mengejutkan banyak individu. Secara resmi, perbudakan ilegal dan tidak diperbolehan di Belanda, namun ada saja orang yang membeli budak di wilayah jajahan dan membawa mereka ke Belanda. Saat itu, memiliki pembantu berkulit gelap menandakan sang majikan berasal dari kalangan orang dengan pengaruh besar.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya