Paulus Maurus sangat mungkin merupakan salah satu orang semacam itu. Kisahnya terungkap melalui kalung tembaga yang bisa dilacak ke rumah majikannya.
Kalung itu sejatinya digolongkan sebagai kalung anjing saat menjadi koleksi museum pada 1881. Namun, detailnya tidak pernah dicermati secara saksama, walaupun kalung serupa juga dikenakan para budak asal Afrika di lukisan-lukisan. Pihak museum kini mengira kalung tersebut dipakai Paulus.
Bagaimana rasanya hidup sebagai pria kulit hitam yang bebas di tengah masyarakat Belanda?
"Lebih rumit dari yang kami kira," kata Smeulders. "Di satu sisi mereka diterima, mereka punya keluarga dan anak...tapi pada saat sama jika Anda minoritas dan Anda melihat penggambaran stereotipikal di sekitar Anda, rasanya pasti sangat tidak enak."
Paulus menikah dan punya anak. Keturunannya mungkin masih bermukim di Amsterdam saat ini meskipun sulit untuk diketahui.
"Setelah beberapa generasi sulit dilihat bahwa orang punya DNA Afrika," kata Smeulders.
Pria kulit hitam biasanya menikahi perempuan kulit putih. Itu mungkin mengejutkan, tapi saat itu tidak ada larangan menikah lain ras. Kita hanya bisa berasumsi bahwa prasangka kurang menonjol di kalangan ekonomi bawah.
Smeulders mengira-ngira apa hasilnya jika sampel-sampel DNA diambil dari kumpulan banyak orang Belanda.
"Yang paling membuat saya ingin tahu apa dampaknya pada masyarakat begitu orang-orang menyadari mereka terhubung secara pribadi dengan kisah dari kedua sisi," ujarnya.
Pemandangan dari kapal
Perilaku sosial bisa saja diubah jika bidang-bidang lain dalam sejarah Belanda dikaji lebih dalam.
Catatan sejarah tentang berakhirnya perbudakan kerap memberi tempat terpuji pada kalangan pendukung penghapusan perbudakan di Eropa. Akan tetapi para pemberontak di dalam sistem jarang disoroti.
Secara khusus ini relevan dalam sejarah Belanda mengingat keengganan negara ini untuk turut menghapus perbudakan. Ketika Inggris menghapusnya pada 1833, Prancis pada 1848 (awalnya dihapus pada 1794 namun Napoleon mencabut aturan itu pada 1802), Belanda baru meniadakan perbudakan pada 1863.
Pameran ini menyoroti kisah Tula, pejuang kebebasan di Curaçao yang terinspirasi Revolusi Prancis.
Ketika Belanda tunduk pada kekuasaan Prancis pada 1795 dan menjadi Republik Batavia, Tula berpendapat bahwa aturan Prancis harus diterapkan di wilayah jajahan Belanda. Salah satu aturannya adalah para budak bebas secara hukum.