Menurut Van Stipriann, selama berpuluh tahun rakyat Belanda memandang diri "kami tidak bisa disebut rasis karena kami toleran…[pawai] itu hanya kelakar, tradisi kami."
Namun sikap itu mulai berubah. Sebuah perdebatan nasional soal Piet Hitam dimulai pada 2011 setelah dua seniman/aktivis muda Afrika-Belanda, Quinsy Gario and Jerry Afriye, memakai kaos oblong bertuliskan "Piet Hitam adalah Rasisme" saat pawai di Dordrecht.
Kemudian tahun lalu, sebuah survei menunjukkan 50% responden memilih mengubah karakter dalam pawai Natal. "Mengubah pandangan setengah populasi dari 10 tahun…dengan kondisi Belanda, itu cepat," papar Van Stipriaan.
Agar sikap dan cara pandang benar-benar berubah, Van Stipriaan meyakini sejarah perbudakan dan penjajahan perlu menjadi bagian dari sejarah nasional. Saat ini dia menjadi bagian dari sebuah tim di Museum Perbudakan Belanda Trans-Atlantik.
Dia meyakini museum itu akan menjadi "penanda di Belanda|, meskipun museum itu sepertinya tidak akan buka sampai 2030.
Bagaimanapun, dia ingin menekankan bahwa "ada banyak pergerakan, keadaan berubah, mungkin tidak terlalu cepat tapi berubah." Dia memandang penunjukan Smeulders—yang dia mentori untuk meraih gelar doktor—sebagai kepala bidang sejarah Rijksmuseum adalah bagian dari perubahan itu.
Latar belakang Smeulders sudah barang tentu membuat dirinya dapat menghadapi tantangan.
"Merangkul apa yang sudah terjadi dan membuka dialog tentang hal tersebut adalah satu-satunya cara untuk bergerak maju. Masa lalu tidak bisa diubah, namun kita bertanggung jawab untuk saat ini: terletak pada kita untuk berbuat lebih baik dengan mengakuinya sebagai sejarah nasional dan sesuatu yang memprihatinkan kita semua," kata Smeulders.
"Secara umum museum punya tugas yang sangat penting—menghadirkan pengetahuan dengan cara yang menyentuh orang, membuatnya secara personal sehingga orang bisa menempatkan diri pada posisi orang lain yang hidup saat itu," ujarnya.
"Yang saya harapkan secara tulus adalah kami bisa melakukan hal tersebut dengan pameran ini dan pekerjaan kami adalah menunjukkan bahwa setiap sejarah punya sisi berbeda. Kami sebagai museum perlu menghadirkan kisah yang lebih kompleks, yang membawa semua suara ini."
(Erha Aprili Ramadhoni)