Kebetulan salah seorang profesornya pernah studi di kota Halle di negara bagian Sachsen Anhalt, di Jerman bagian timur.
Dialah yang membuka jalan bagi mahasiswanya untuk bisa berkuliah di Eropa. Mereka bersama-sama memilih Jerman, karena banyak ahli di berbagai bidang berasal dari Jerman.
Itulah alasan utamanya untuk melanjutkan kuliah di Jerman. Selain itu, Maston mengatakan, di Indonesia Jerman citranya bagus.
Di Jerman dia melanjutkan studi ke jenjang S2 di Hochschule Bremerhaven, dalam bidang bioteknologi.
Ia tiba di Jerman tanggal 3 Oktober 2008.
"Tepat pada Tag der Deutschen Einheit [Hari Penyatuan Jerman]," kata Maston. Ia bercerita, karena untuk berkuliah juga dibutuhkan kemampuan berbahasa Jerman, dia harus belajar bahasa Jerman terlebih dahulu selama dua tahun, sebelum mendapat izin tinggal untuk berkuliah. Itu dilakukannya di kota Bremen.
Ketika masih dalam proses mempersiapkan diri untuk berkuliah, ia juga sudah harus bekerja untuk membiayai hidup. Demikian pula ketika sedang berkuliah.
"Dapat 450 Euro sebulan sudah senang," katanya lagi.
“Datang ke Jerman dengan bekal kemauan aja.”
Tidak pakai beasiswa dan tidak ada bantuan dari orang tua. Kalau ditanya mengapa di Bremen, dia bercerita, kalau di Jerman bagian selatan biaya menyewa tempat tinggal dan biaya lain-lainnya lebih mahal daripada di Jerman bagian utara.
"Selain itu di Jerman Utara lebih mudah belajar bahasa jerman karena di sana orang Jermannya menggunakan Hochdeutsch [bahasa Jerman tanpa dialek]."
Sebetulnya, dulu ketika baru tamat SMA, dia bercita-cita menjadi dokter. Ketika mengikuti ujian untuk berkuliah di universitas negeri, dia memilih jurusan kedokteran di Universitas Sumatra Utara, dan jurusan biologi di Universitas Negeri Medan.
Yang dia peroleh adalah pilihan ke dua. Awalnya dia berencana untuk mulai berkuliah saja di jurusan biologi, kemudian ikut seleksi lagi di tahun berikutnya.
Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menyelesaikan kuliah di bidang biologi saja, karena merasa sayang, sudah menginvestasikan waktu dan dana selama setahun di jurusan itu.
"Kalau di Indonesia, kita kan ga bisa sambil kuliah sambil kerja," begitu dijelaskan Maston. Di jurusan biologi, dia juga pernah punya dosen dari Kanada, yang pintar dalam bidang bioteknologi.
"Jadi misalnya, bagaimana membuat zat A dari bakteri? Atau dari organisme lainnya," dijelaskan Maston. Akhirnya dia tertarik untuk memperdalam bidang bioteknologi.
Mengapa dia memutuskan untuk berkuliah di Hochschule Bremerhaven, juga ada alasan tersendirinya.
Jika berkuliah di Hochschule, 60% yang dipelajari adalah praktik, dan bukan teori seperti di universitas.
"Dan karena saya orangnya tidak pandai komunikasi, jadi pengennya kerja aja di laboratorium. Ga harus ngomong, ga harus menginformasikan ke orang lain, dan ga harus menerangkan secara lisan cukup dengan tulisan." Begitu dijelaskan Maston. Ketika kuliah, spesialisasinya adalah bidang bioanalitik.
Mulai bekerja di bidang yang diminati
Maston bercerita, ketika selesai kuliah ia mulai bekerja di sebuah perusahaan industri farmasi internasional.
Awalnya dia bekerja di bagian DNA Sintesis.
Setelah tiga setengah tahun di bagian itu, ia pindah ke bagian Gen Sintesis, dan tetap di perusahaan sama.