Kisah Romaston Silalahi Kerja Keras dan Keberanian Hadapi Tantangan Dalami Bioteknologi di Jerman

Agregasi DW, Jurnalis
Kamis 02 Juni 2022 10:31 WIB
Maston Silalahi/DW
Share :

Penggunaan Fachbegriffe dengan cepat dan tepat masih jadi tantangan

 

Dalam pekerjaan, seperti dalam urusan dengan customer support atau layanan bagi pelanggan, ia selalu menulis dalam bahasa Jerman, walaupun dalam bahasa Inggris juga bisa. Laporan di saat mengakhiri magang dulu dia tulis dalam bahasa Inggris, tetapi tesisnya untuk mendapat gelar Master dalam bahasa Jerman.

"Tapi logatnya masih tetap Batak," kata Maston sambil tertawa.

Maston menjelaskan, dalam hal pekerjaan, dia masih menghadapi tantangan dalam hal bahasa. Misalnya klien ada yang menanyakan suatu hal.

Dia kadang menghadapi kesulitan memberikan penjelasan kepada klien dalam satu bahasa, jika selama ini informasi yang ia dapat menggunakan dua bahasa, yaitu Inggris dan Jerman.

"Jadi Fachbegriffe [istilah spesifik dalam sebuah bidang] yang harus digunakan ga bisa langsung tepat."

Tantangan dalam hal budaya juga ada. Dia menyinggung bahwa dulu, ketika masih kuliah banyak kesulitannya, tapi dia harus berusaha untuk mengingat terlebih dahulu. |

"Sekarang sudah enak jadi sudah lupa," jelasnya sambil tertawa. Yang jelas, karena sejak kuliah dia sudah biasa bergaul dengan orang Jerman, ia mengatakan sambil senyum-senyum,

"Man fühlt sich wie ein Deutscher [rasanya sudah seperti orang Jerman]."

Yang jelas ia ingat, ketika kuliah, profesornya tidak akan bertanya, apa masalah yang ia hadapi.

Tapi jika dia berani dan mengutarakan, apa saja yang belum dia mengerti, profesornya akan mengambil waktu untuk menjelaskan semuanya sampai dia mengerti.

"Tapi kalo kita nggak bertanya, nggak ada yang akan peduli," begitu papar Maston.

Selain itu, ada perbedaan menonjol yang ia rasakan ketika berkuliah di Hochschule Bremerhaven, dibanding dengan ketika kuliah di Indonesia, dan hal ini ia pandang dengan kritis.

"Waktu kuliah di Indonesia, kalau kita menggunakan pipet untuk sesuatu, ya asal-asal aja, gitu," kata Maston. Sedangkan di Jerman, pipet ada lengkap dari berbagai ukuran, yang dibawah 0,5 mikroliter juga sudah biasa.

Bagi dia, yang ia rasa paling memalukan adalah ketika berkuliah di Bremerhaven, dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan pipet yang diperlukan.

"Waktu kuliah di Universitas Negeri Medan, ga pernah megang itu. Padahal itu hal dasar yang diperlukan orang untuk masuk ke universitas." Ia bercerita merasa malu bertanya ke rekan kuliah lainnya.

"Karena gimana caranya masuk ke universitas, kalau megang pipet ini aja ga pernah, gitu."

Dia bercerita pula, semua peralatan di Hochschule Bremerhaven canggih. Semuanya belum pernah dia lihat di Indonesia, hanya pernah dengar.

"Tapi itupun, dengarnya bukan saat kuliah. Mungkin dari YouTube, atau dari baca artikel, gitu."

Namun karena menyadari ada kekurangan, ia berjuang menutupi kekurangan itu. Sehingga ketika mahasiswa yang lain sudah pulang, dia meminta izin kepada penjaga laboratorium untuk melihat semua peralatan yang ada di sana.

“Jika bertanya, mereka langsung respek,” kata Maston. “Ja bitte, das gehört alles Dir.” [Silahkan, terserah kamu mau melihat yang mana.] Kemudian dia bisa mencoba-coba dan membaca semuanya.

“Buka semua laci. Ini untuk apa? Baca sendiri. Biar nanti, kalau Praktikum [praktek] berikutnya, tahu di mana letaknya bahannya. Supaya ga terlalu bloon lah,” kata Maston sambil tertawa.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya