(Oleh: M Sholeh Basyari, Direktur Ekskutif Center Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS), Jakarta)
KESYAHIDAN Ali Khamenei, tampaknya bukan penanda pereda ketegangan. Konflik Amerika-Israel melawan Iran besar kemungkinan makin membara. Oleh karena itu, Amerika belum buru-buru menarik semua armadanya dari kawasan Timur Tengah. Israel juga masih gencar melakukan provokasi.
Sementara, Hauthi dan Hizbullah, juga proxy Iran lain di Iraq, juga tengah melakukan pergeseran posisi mendekati perbatasan darat Iran.
Setidaknya ada empat konteks yang mendasari kenapa konflik ini akan berlangsung lama?
Pertama, pasca Bung Karno, Josep Boz Tito, Nehru dan Gamal Abdul Nasser, juga, Fidel Castro, tokoh serius yang berani melawan Amerika "hanya" Ayatullah Ali Khamenei. Sejatinya publik internasional banyak yang simpatik pada Iran. Ali Khamenei memenuhi dan mengisi hajat publik internasional tidak sekedar tandingan (counterculture), melainkan bagaimana bersikap "humanizing the face of enemy" (memanusiakan musuh).