JAKARTA - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) melontarkan kritik keras, terkait kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang tengah diusut Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Khairi menilai kasus tersebut bukan sekadar persoalan kerugian negara, melainkan tragedi pendidikan yang melukai para guru.
Menurut Iman, pengadaan laptop di tengah kondisi sekolah rusak dan rendahnya kesejahteraan guru honorer menjadi ironi besar, terutama di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
“Beli laptop ngapain? Kita butuh gaji,” ujar Iman, Sabtu (9/5/2026).
P2G juga menyoroti fitur testimoni otomatis dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang dianggap merendahkan martabat profesi guru karena mendorong guru mengunggah aktivitas ke media sosial.
“Guru-guru harus begadang malam-malam hanya demi aplikasi, bukan demi murid. Ini mengkhianati profesi,” tegasnya.
P2G mendukung langkah Kejaksaan Agung mengusut dugaan kerugian negara hingga Rp2,1 triliun dalam kasus tersebut.
Menurut Iman, anggaran sebesar itu seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan pendidikan yang lebih mendasar, seperti perbaikan sekolah dan penyediaan buku bacaan berkualitas di daerah terpencil.
Ia juga mengingatkan kondisi literasi nasional yang dinilai masih darurat dan meminta kasus ini dibuka secara terang benderang.
“Jangan sampai masa depan anak bangsa kembali dikorupsi demi ambisi teknologi yang tidak menyentuh akar masalah,” pungkasnya.
(Awaludin)