JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menegaskan, Jakarta harus menjadi kota yang menjamin kebebasan masyarakat untuk berkumpul, berpendapat, dan berdiskusi tanpa rasa takut. Menurutnya, ruang-ruang publik harus tetap terbuka sebagai wadah bertukar gagasan secara ilmiah dan kritis.
Pernyataan tersebut disampaikan Rano saat menghadiri kuliah umum di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7/2026).
"Jakarta harus tetap menjadi kota tempat masyarakat bebas berkumpul, berpendapat, dan berdiskusi tanpa rasa takut," ujar Rano.
"Taman Ismail Marzuki, kampus-kampus, serta ruang publik lainnya harus selalu terbuka bagi forum-forum diskusi ilmiah dan kritis," katanya.
Rano juga menegaskan, setiap kebijakan Pemprov DKI Jakarta disusun dengan berpijak pada nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, pembangunan ibu kota harus mampu menjawab kebutuhan warga, mulai dari pendidikan, lapangan pekerjaan, hingga penyediaan hunian yang layak.
Menurutnya, keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari sejauh mana kebijakan tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
"Indikator keberhasilan setiap kebijakan di Jakarta adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu mempermudah dan memanusiakan kehidupan warga, terutama dalam aspek hunian, penataan kota, serta akses terhadap layanan dasar," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Rano juga menyinggung karakter Si Doel yang telah lama melekat dengan dirinya. Menurutnya, tokoh tersebut bukan sekadar karakter hiburan, melainkan simbol perjuangan masyarakat menghadapi tantangan modernisasi, penataan kota, dan kebutuhan akan hunian yang layak.
Menanggapi paparan Guru Besar Studi Asia University of Melbourne, Profesor Vedi R. Hadiz, mengenai dinamika pembangunan dan tantangan reformasi, Rano mengajak masyarakat tetap optimistis menghadapi berbagai persoalan.
Ia kemudian mengutip filosofi masyarakat Betawi yang menekankan pentingnya mencari solusi dalam setiap keadaan.
"Orang Betawi memiliki ungkapan, 'Kalau jalan buntu jangan berhenti, cari gang, cari lorong'. Jakarta adalah kota seribu gang. Melalui ruang-ruang kecil yang humanis, warga berinteraksi dan berdiskusi. Dari sanalah solusi-solusi pragmatis untuk memajukan kota kerap lahir," ujarnya.
Kuliah umum tersebut dihadiri Anggota DPR RI sekaligus sejarawan Bonnie Triyana, perwakilan berbagai organisasi, serta ratusan mahasiswa dari berbagai daerah. Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat tema demokrasi, pembangunan, dan masa depan reformasi di Indonesia.
Usai mengikuti kuliah umum, Rano meninjau Pameran Seni Kolaboratif bertajuk EVANESCENCE di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki. Kunjungan itu menjadi bentuk dukungan Pemprov DKI Jakarta terhadap perkembangan seni rupa kontemporer sekaligus memperkuat fungsi TIM sebagai ruang kreativitas, ekspresi, dan interaksi budaya yang terbuka bagi masyarakat.
(Awaludin)