Refleksi Kemerdekaan RI, Pemerintah Alirkan Kedaulatan dari Sawah hingga Jembatan di Pelosok Negeri

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Selasa 18 Agustus 2026 18:12 WIB
Foto: Ilustrasi Okezone
Share :

JAKARTA – Kemerdekaan suatu bangsa tidak berhenti ketika dentang proklamasi selesai dikumandangkan. Tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana merawat dan mengisinya agar kedaulatan itu bisa benar-benar dirasakan seluruh rakyat dalam kehidupan sehari-hari.

"Kemerdekaan harus hadir dalam air yang mengalir ke sawah-sawah petani, jalan yang menghubungkan desa dengan pusat pasar, jembatan yang mengantar anak-anak pergi ke sekolah, hingga permukiman yang memiliki akses air minum serta sanitasi layak," ujar Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum (PU) Jemmy Setiawan, Selasa (18/8/2026).

Perjalanan Kementerian PU dalam mengawal kedaulatan bangsa memiliki irisan sejarah yang sangat kuat dengan lahirnya Republik ini. Didirikan pada Agustus 1945, lembaga ini telah genap berusia 81 tahun mengabdi.

Jemmy mengenang, pada masa awal kemerdekaan, kantor pusat PU menempati bekas gedung Departement van Verkeer en Waterstaat di Bandung, bangunan bersejarah yang kini dikenal luas sebagai Gedung Sate. Gedung tersebut bukan sekadar perkantoran, melainkan benteng pengetahuan teknis dan arsip penting negara.

Sejarah mencatat peristiwa heroik pada 3 Desember 1945. Sebanyak 21 pegawai PU bertaruh nyawa mempertahankan Gedung Sate dari gempuran pasukan Sekutu dan NICA. Tujuh di antaranya gugur dan diabadikan sebagai pahlawan Sapta Taruna. Peristiwa ini kelak menjadi tonggak peringatan Hari Bakti PU setiap 3 Desember.

"Pesan pahlawan Sapta Taruna sangat jelas: mempertahankan kemerdekaan tidak hanya di medan perang, tetapi juga menjaga aset, infrastruktur, dan kelembagaan negara,”ujarnya.

‘’Jika pada 1945 insan PU mempertahankan gedung negara, maka di tahun 2026 ini pengabdian itu diteruskan dengan membangun infrastruktur agar kehadiran negara dirasakan seluruh rakyat," lanjut Jemmy.

Seiring berjalannya waktu, peran Pemerintah dari sekadar perbaikan prasarana pasca-revolusi menjadi motor utama pembangunan nasional.

Tonggak sejarah seperti pembangunan Bendungan Jatiluhur (1957), Jembatan Semanggi, hingga Jalan Tol Jagorawi (1978) menjadi bukti nyata kemampuan teknokratis insinyur Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, infrastruktur ditempatkan sebagai pilar pengungkit utama program Asta Cita, khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan, energi, dan air.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya