“Jangan kita mengatakan sarjananya tidak punya kompetensi, tidak punya pengalaman, atau terlalu memilih pekerjaan. Kita harus melihat persoalan ini secara lebih adil dan struktural. Ada tanggung jawab universitas, dunia usaha, dan pemerintah,” tegasnya.
Tama mendorong tiga langkah melalui konsep “3 Link and Match”, yakni perguruan tinggi memperkuat relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha menyediakan ruang magang, apprenticeship, dan rekrutmen, serta pemerintah memastikan pertumbuhan ekonomi menghasilkan lapangan kerja berkualitas.
“Kampus harus mulai berani mengukur dirinya dari apa yang terjadi kepada alumninya setelah wisuda. Berapa persen yang bekerja? Berapa lama masa tunggunya? Apakah pekerjaan mereka sesuai dengan kompetensinya?” ujarnya.
Di sisi dunia usaha, Tama meminta perusahaan membuka jalur transisi bagi mahasiswa dan fresh graduate, sementara pemerintah perlu menghubungkan kebijakan pendidikan tinggi dengan industri, investasi, hilirisasi, ekonomi digital, jasa profesional, industri kreatif, kesehatan, dan pariwisata yang memiliki kapasitas menyerap tenaga kerja terdidik.