“Jangan semua perusahaan meminta pengalaman kepada fresh graduate. Harus ada mekanisme yang memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengalaman sebelum lulus. Magang harus diarahkan menjadi apprenticeship dan kalau memungkinkan berujung pada rekrutmen,” katanya.
Dia juga mengingatkan penyelesaian pengangguran sarjana tidak dapat hanya diarahkan pada kewirausahaan.
“Tidak semua sarjana harus menjadi entrepreneur. Entrepreneurship penting, tetapi negara tetap harus memastikan tersedianya lapangan kerja formal yang layak. Jangan sampai tanggung jawab penciptaan pekerjaan justru seluruhnya dibebankan kepada individu,” tegasnya.
Sebagai langkah penyelesaian jangka panjang, Tama menegaskan pentingnya keselarasan antara visi pendidikan tinggi dan ketersediaan ruang kerja di sektor riil.
“Kita tidak boleh hanya mencetak lebih banyak sarjana. Kita juga harus menciptakan lebih banyak pekerjaan yang membutuhkan sarjana,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )