RIYADH — Arab Saudi dilaporkan tengah merencanakan serangan besar-besaran di Yaman untuk merebut kembali kawasan strategis yang dikuasai pemberontak Houthi sejak bulan lalu. Kawasan tersebut merupakan jalur kunci yang mengontrol akses ke Laut Merah. Demikian dilaporkan Reuters pada Jumat (2/10/2026) dengan mengutip keterangan pejabat Teluk, pejabat Yaman, serta diplomat Barat.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa lebih dari 100.000 prajurit pemerintah Yaman berpeluang dikerahkan dalam operasi ini, bergantung pada skala pertempuran yang disepakati. Serangan tersebut nantinya akan dipimpin oleh Arab Saudi dengan dukungan serangan udara. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat yang memberikan bantuan intelijen serta logistik diperkirakan tidak akan terlibat langsung dalam operasi tempur di lapangan.
Pihak Arab Saudi dikabarkan sedang mempertimbangkan dua skenario serangan: berfokus merebut kembali wilayah pesisir di sekitar Selat Bab el-Mandeb—yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia—atau menggelar operasi militer serentak di sejumlah front, meliputi Al-Bayda, Marib, Taiz, dan Al-Jawf.
Arab Saudi pertama kali melakukan intervensi militer di Yaman pada 2015 guna mendukung pemerintah resmi yang diakui secara internasional usai digulingkan kelompok Houthi dari ibu kota Sanaa. Intensitas pertempuran berskala besar sempat menurun signifikan setelah tercapainya gencatan senjata yang difasilitasi PBB pada 2022.
Namun, eskalasi kembali memanas bulan lalu setelah kelompok Houthi menuduh Riyadh menerapkan blokade ilegal terhadap Yaman. Sejak saat itu, kelompok pemberontak tersebut berhasil menguasai pelabuhan strategis Mokha dan Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb.
Pada Jumat, kelompok Houthi mengklaim bahwa pasukan Saudi telah melancarkan 94 serangan ke wilayah kekuasaan mereka dalam kurun 24 jam terakhir. Omar al-Bukhaiti, juru bicara pemerintah bentukan Houthi di Sanaa, menuding kerajaan tersebut sengaja menyasar fasilitas sipil, termasuk sekolah dan pusat layanan kesehatan.