Share

Dilarang Kibarkan Bendera Aceh, Ketua DPRA Mengamuk

ant, · Senin 04 Mei 2015 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2015 05 04 340 1144224 dilarang-kibarkan-bendera-aceh-ketua-dpra-mengamuk-1gBwAHaEVn.jpg foto: dok. Okezone

BANDA ACEH - Ketua Komisi I DPR Aceh Abdullah Saleh mengamuk karena tidak diizinkan mengibarkan bendera daerah Aceh oleh sekretaris dewan. Aksi itu dilakukan Abdullah Saleh di dekat tiang bendera depan Gedung DPRA di Banda Aceh, Senin (4/5/2015).

Aksi politikus Partai Aceh tersebut sempat menimbulkan kepanikan di gedung wakil rakyat. Pasalnya, Abdullah Saleh yang terlihat marah melilitkan bendera bergambar bulan bintang dengan garis putih merah berlatar merah ke leher Sekretaris DPRA A Hamid Zein.

"Kok seperti ini, janganlah seperti ini. DPRA ini punya pimpinan. Kejadian ini akan saya laporkan kepada pimpinan," kata A Hamid Zein seraya berusaha melepaskan lilitan bendera Aceh di lehernya dan menjauh dari Abdullah Saleh.

Insiden tersebut dilihat sejumlah polisi, baik yang berseragam maupun preman. Beberapa jam sebelum rencana pengibaran bendera tersebut, puluhan polisi terlihat berjaga-jaga di depan gedung dewan itu.

Sebelumnya, Abdullah Saleh menerima kedatangan utusan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) yang diketuai Safaruddin di Ruang Komisi I DPRA. Pada kesempatan itu, YARA meminta Komisi I DPRA mengibarkan bendera Aceh yang mirip dengan bendera GAM.

"Kami meminta DPRA mengibarkan bendera ini karena yuridis formalnya sudah jelas. Selama ini DPRA sibuk mengurusi bendera. Dengan berkibarnya bendera ini, maka polemik bendera Aceh sudah berakhir dan dewan bisa memfokuskan kesejahteraan rakyat," kata Safaruddin.

Menurut Safaruddin, tiang bendera juga sudah dibangun oleh DPRA sejak setahun terakhir. Jika DPRA sudah mengibarkan bendera Aceh, maka pengibaran bendera ini tidak ada masalah lagi.

"Setelah DPRA, gubernur juga akan mengibarkannya. Barulah kemudian masyarakat mengibarkannya. Dengan demikian polemik bendera Aceh yang berlarut-larut ini berakhir sudah," katanya.

Atas permintaan tersebut, Abdullah Saleh mengatakan Komisi I DPRA siap mengibarkan. Lalu, Safaruddin menyerahkan bendera Aceh kepada Abdullah Saleh untuk dikibarkan.

Sebelum dikibarkan, Abdullah Saleh sempat meminta staf Komisi I DPRA menjahit tali pengikat bendera agar ketika bendera tidak terlepas.

Usai tali bendera dijahit, Abdullah Saleh beserta Safaruddin dan sejumlah aktivis YARA, serta puluhan wartawan, beramai-ramai menuju tiang bendera di depan Gedung DPRA.

Di tempat itu ada dua tiang bendera. Satu tiang tertinggi berkibar merah putih, dan sebelah kirinya ada satu tiang. Rencananya, tiang itu memang disiapkan untuk bendera Aceh.

Namun, saat bendera hendak dikibarkan, tali pengikat diikat, sehingga Abdullah Saleh meminta staf DPRA mengambil tangga, menurunkan tali pengikat bendera tersebut.

Saat tali pengikat hendak diturunkan, muncul Sekretaris DPRA A Hamid Zein. Ia mengajak Abdullah Saleh berbicara empat mata. Kemudian, keduanya menjumpai Safaruddin.

Saat itu Safaruddin menjelaskan maksudnya hendak mengibarkan bendera Aceh. Pengibaran bendera untuk mengakhiri polemik bendera Aceh yang berlarut-larut.

Atas penjelasan itu, A Hamid Zein mengatakan, yang bertanggung jawab mengibarkan bendera adalah sekretariat dewan. Jika YARA ingin mengibarkannya, maka bendera tersebut diserahkan ke sekretariat dewan.

Lalu, Safaruddin menyerahkan bendera bulan bintang tersebut kepada Abdullah Saleh. Setelah itu, Abdullah Saleh melilitkan bendera mirip bendera GAM tersebut ke leher A Hamid Zein.

Melihat kondisi itu, A Hamid Zein langsung meninggalkan tempat tersebut. Sementara, Abdullah Saleh menuju ruang Ketua DPRA Muharuddin menyerahkan bendera Aceh.

"Karena Ketua DPRA tidak ada di tempat, saya meletakkan bendera Aceh di meja kerjanya. Saya meminta pimpinan DPRA segera mengibarkan bendera Aceh ini," kata Abdullah Saleh.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini