Di kompleks pabrik pengolahan kopi tersebut dahulu terdapat bungker yang biasa difungsikan sebagai tempat penyimpanan makanan cadangan dan barang berharga. Jalan yang membelah Gunung Tugel menjadi dua bagian itu sengaja dibuat untuk memudahkan akses keluar masuk pabrik pengolahan kopi dan tanaman serat.
Sejak 2010 silam, Gunung Tugel menjadi objek eksploitasi tambang galian C. Sejak saat itu, tanah dan bebatuan di Gunung Tugel dikeruk secara liar. Meski mendapat perlawanan dari para aktivis peduli lingkungan di desa setempat, hingga kini kegiatan tambang di Gunung Tugel jalan terus.
Sebelum ditambang, Gunung Tugel masih terlihat asri. Namun, kegiatan tambang yang dilakukan secara terus menerus itu mengakibatkan Gunung Tugel terlihat gersang.
“Karena terus menerus dikeruk, lapisan tanah yang tersisa berupa batu cadas yang tidak subur untuk ditanami pepohonan,” kata Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Jambeyan, Kusmanto.
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.