“Sejak mendarat di Bandar Udara Los Angeles (LAX), paspor saya sudah ditahan oleh majikan,” terang Ima yang tidak mau mengungkap nama pengusaha tersebut.
Selama tiga tahun, Ima harus bekerja lebih dari 12 jam. Hampir setiap hari ia menjalani siksaan dan pukulan dari majikannya. Untuk setiap kesalahan kecil yang dibuat, Ima harus rela menerima pukulan dan tamparan berkali-kali.
“Sampai sekarang bekas luka di kepala masih bisa dilihat,” ujar Irma yang saat itu masih belum bisa berbicara dalam bahasa Inggris. Kondisi itu terus berlangsung selama tiga tahun.
Pada tahun 2000, Irma nekat menyisipkan catatan kecil berisi permintaan tolong kepada seorang pengasuh bayi tetangganya. Temannya ini yang kemudian menolong Ima melarikan diri dan mengantarnya ke Kantor Coalition to Abolish Slavery and Trafficking (CAST).
Ima yang masih belum memegang paspor, terpaksa tinggal beberapa bulan di rumah penampungan kaum tunawisma. Ia kemudian berhasil mendapat pekerjaan di CAST dan tinggal di rumah yang layak.