Demi mendapatkan paspornya lagi, Ima sempat berpura-pura pulang ke Indonesia. Dengan ditemani seorang agen FBI, ia bertemu dengan majikannya di Bandara LAX. “Saya dipasangi alat penyadap untuk merekam seluruh pembicaraan,” tutur Ima.
Singkat cerita, majikannya memberi tiket pesawat pulang ke Tanah Air dan berjanji mengirim gajinya setelah Ima tiba di Malang. Namun, gaji tersebut tidak pernah dibayar karena Ima tidak pernah pulang. Setelah pertemuan, ia hanya masuk ke dalam sebuah ruangan bandara dan keluar lagi.
Pun begitu, Ima tetap tidak ingin menuntut majikannya tersebut. “Prosesnya cukup berbelit dan membutuhkan saksi mata yang jelas. Lagipula, aksi kekerasan itu terjadi di dalam rumah tanpa diketahui banyak orang dan bekas-bekas luka saya dianggap kurang menunjukkan luka serius meski meninggalkan bekas di kepala,” sambungnya.
Kasus berhenti sampai di situ. Majikannya yang berstatus warga AS juga masih tinggal di Los Angeles. Meski demikian, Ima tetap tegar. Justru, kariernya sebagai aktivis semakin menanjak.