nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jelang Pilpres AS, Hasil Akhir Sulit Diperkirakan

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis · Rabu 02 November 2016 18:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 11 02 18 1531269 jelang-pilpres-as-hasil-akhir-sulit-diperkirakan-fwhFdMBBYj.jpg Capres AS dari Partai Republik Donald Trump dan Capres AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton. (Foto: Reuters)

SYDNEY - Kurang dari sepekan, warga Negeri Paman Sam akan berpartisipasi dalam pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS). Berbagai polling awal menunjukkan kekuatan kedua kandidat utama, Donald Trump dan Hillary Clinton. Namun hasil akhirnya diperkirakan akan sulit diprediksi.

Hal tersebut disampaikan Duta Besar Australia untuk AS Joe Hickey saat menjadi pembicara sebuah acara di Sydney University. Hockey menyebut, seminggu lalu ia memperkirakan bahwa kandidat dari Partai Demokrat Hillary Clinton akan memenangi pilpres AS dan menjadi presiden perempuan pertama di negara adi daya tersebut. Tetapi, kini ia tidak yakin lagi.

Salah satu penyebabnya, kata Hockey, adalah kontroversi yang menyeruak setelah Biro Investigasi Federal (FBI) AS membuka kembali penyelidikan atas skandal penggunaan server e-mail pribadi Hillary saat menjabat sebagai menteri luar negeri.

"Sulit diperkirakan. Saya yakin pekan lalu, tapi sekarang tidak lagi," ujar Hockey, seperti dilansir SBS Australia, Rabu (2/11/2016).

Hillary sempat mengungguli rivalnya dari Partai Republik, Donald Trump, dalam polling menjelang pilpres. Popularitas ibu satu anak itu menurun pasca-FBI membuka kembali penyelidikan atas kasus skandal e-mail-nya hanya beberapa hari menjelang pemungutan suara 8 November.

Hockey menilai, siapa pun yang nantinya menduduki kursi AS-1 akan harus berhadapan dengan "gelombang anti-kemapanan" yang dicetuskan pendukung Trump dan rival Hillary dalam nominasi capres dari Partai Demokrat, Bernie Sanders.

 

Dubes Australia untuk AS Joe Hockey. (Foto: SBS Australia)

Pria yang menjadi representasi Australia di AS sejak Januari itu menyitir data polling yang menunjukkan bahwa 70 persen warga Amerika berpikir negaranya sedang menuju arah yang salah.

"Orang-orang Amerika ini mencoba mengirimkan pesan yang sama seperti yang dilakukan warga Inggris saat memilih untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit). Warga Amerika menginginkan perubahan," pungkasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini