PM Inggris Theresa May Terancam Dimakzulkan Gara-Gara Brexit

Silviana Dharma, Okezone · Jum'at 04 November 2016 10:45 WIB
https: img.okezone.com content 2016 11 04 18 1532742 pm-inggris-theresa-may-terancam-dimakzulkan-gara-gara-brexit-loVSVx8wjY.jpg PM Inggris Raya, Theresa May. (Foto: Hannah McKay/PA)

LONDON – Perdana Menteri Inggris Raya, Theresa May, mendapatkan posisinya yang sekarang berkat kemenangan kubu Brexit (Britain Exit) pada Juni 2016. Namun belum genap satu semester menggantikan David Cameron, perempuan politikus itu sudah terancam dimakzulkan.

Rakyat melihat, Brexit justru semakin mengacaukan kondisi dalam negeri alih-alih menjadi penyelesaian masalah seperti yang digembar-gemborkan. Pengadilan Tinggi pun memutuskan, May tidak berhak menggunakan hak prerogatifnya dalam memutuskan perkara Brexit tanpa melibatkan parlemen dan jajarannya.

Keputusan tersebut alhasil meningkatkan pesimisme di kalangan masyarakat. Rakyat bertanya-tanya, masih bisakah May menegosiasikan pasal 50 Uni Eropa itu pada Maret 2017 dan membuat Inggris Raya sepenuhnya terbebas dari Uni Eropa pada musim semi 2019 jika parlemen tidak meloloskan keinginannya? Demikian seperti disitat dari Independent, Jumat (4/11/2016).

Sejatinya, protes itu telah berdatangan sejak pertama kali hasil referendum Uni Eropa diumumkan. Kebanyakan rakyat tidak menyangka mereka akan benar-benar keluar dari organisasi kerjasama Benua Biru tersebut.

Kekhawatiran yang disuarakan Cameron dan pemerintah Amerika Serikat sebelum Brexit pun terbukti. Perekonomian Inggris merosot tajam dan pekerjaan semakin sulit didapat.

Para petinggi Uni Eropa lantas mencemooh May dengan menyebutnya, ‘memalukan’. Mereka berujar, Downing Street – nama jalan tempat perdana menteri Inggris berkantor – selayaknya mengesampingkan dulu pelaksanaan pemilihan umum di negaranya.

Menanggapi hal tersebut, Theresa May menegaskan, sekalipun pemilu ditunda, dia tidak akan pernah mundur dari gagasannya tentang keluar dari Uni Eropa. PM yang disebut-sebut sebagai Margaret Thatcher kedua itu juga bersikeras akan tetap memenuhi targetnya untuk mengakhiri negosiasi Brexit pada Maret 2017.

Shadow Brexit secretary Keir Starmer

Akan tetapi, hingga saat ini parlemen masih belum menerima rencana lengkap May soal negosiasi tersebut. Keir Starmer, sekretaris bayangan Brexit mengungkap, ada pertanyaan besar yang harus lebih dulu dijawab May. Salah satunya, perihal dia ingin Inggris Raya tetap dalam pasar tunggal (Uni Eropa) atau serikat pabean. Sebab yang dituntut sebagian besar majelis parlemen di sini adalah transparansi yang lebih besar.

“Ini adalah tentang akuntabilitas dan pengawasan. Sangat banyak anggota parlemen menerima dan menghormati hasil referendum tentunya, tetapi persyaratan untuk keluar itu juga penting. Menurut saya, sekarang ada konsensus bahwa perdana menteri harus menyerahkan strategi lengkapnya dulu. Ide May yang membiarkan kita meraba dalam gelap sampai 2019 selayaknya ditolak,” tukasnya, seperti dilansir The Guardian.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini