Share

Moon Jae-in, Anak Pengungsi Korut yang Menjadi Presiden Korsel

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Rabu 10 Mei 2017 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 10 18 1687549 moon-jae-in-anak-pengungsi-korut-yang-menjadi-presiden-korsel-O9rlFR8Nmk.jpg Presiden terpilih Korsel dari Partai Demokrat Liberal, Moon Jae-in. (Foto: Yonhap)

KEKALAHAN dari Park Geun-hye pada Pemilihan Presiden (Pilpres) Korea Selatan (Korsel) 2012 tidak membuat Moon Jae-in menyerah. Pria berusia 64 tahun itu kembali bertarung dalam Pilpres Korsel 2017 untuk menggantikan perempuan yang mengalahkannya lima tahun lalu itu.

Moon Jae-in lahir di Geoje 24 Januari 1953 dari pasangan Moon Yong-hyung dan Kang Han-ok. Sang ayah, Yong-hyung, adalah seorang pengungsi dari Kota Hamhung, Provinsi South Hamgyeong, Korea Utara. Ia melarikan diri dan menetap di Geoje sebagai seorang pekerja di penjara.

Namun, keluarganya kemudian pindah dan menetap di Busan. Moon Jae-in menempuh pendidikan sekolah menengah di Kyungnam High School. Jae-in lalu menempuh pendidikan tinggi di Kyunghee University dengan mengambil jurusan hukum.

Ketertarikannya pada dunia politik terlihat sejak menjadi mahasiswa. Ia pernah ditangkap dan dikeluarkan dari Kyunghee University karena mengorganisir aksi unjuk rasa terhadap Konstitusi Yushin. Yang menarik, konstitusi tersebut diteken pada masa pemerintahan mendiang Presiden Park Chung-hee, ayah dari Park Geun-hye.

Setelah dikeluarkan, sebagaimana pria Korsel lain, Moon Jae-in mengikuti wajib militer. Ia direkrut untuk menjadi pasukan khusus. Setelah selesai wajib militer, Jae-in lulus dari tes hukum dan masuk ke Judicial Research and Training Institute.

Jae-in lulus dengan menyandang predikat terbaik kedua atau runner up di angkatannya. Namun, ia tidak diperkenankan menjadi hakim atau jaksa yang digaji pemerintah karena sejarah sebagai aktivis melawan pemerintah Korsel. Ia kemudian memilih untuk menjadi seorang pengacara.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Moon Jae-in bermitra dengan Roh Moo-hyun sebagai pengacara pembela hak asasi manusia (HAM) dan hak-hak sipil. Relasi keduanya sangat erat bahkan ketika Roh Moo-hyun terpilih sebagai Presiden Korsel 2003-2008. Ayah dua orang anak itu diangkat sebagai kepala staf kepresidenan.

Ketika Roh diselidiki atas kasus korupsi, Moon Jae-in tampil sebagai pembela. Namun, Moo-hyun kemudian bunuh diri pada 2009. Jae-in ditunjuk untuk mengurus pemakaman sang sahabat dan mengurus masalah pribadi mendiang Roo-hyun. Sosoknya dianggap mampu dipercaya dan membuat publik terpesona.

Ia dianggap oleh kalangan liberal sebagai sosok yang atraktif dan tepat untuk menantang calon dari Partai Saenuri yang beraliran konservatif, Park Geun-hye, pada Pilpres Korsel 2012. Moon Jae-in diangkat sebagai calon presiden dari Partai Demokratik Bersatu pada 16 September 2012.

Park Geun-hye, Moon Jae-in, dan Ahn Cheol-soo bertarung menuju Gedung Biru, Istana Kepresidenan Korsel. Ahn Cheol-soo kemudian mengundurkan diri setelah melihat jajak pendapat yang menyatakan dirinya dan Jae-in akan kalah telak dalam pertarungan tiga kandidat. Cheol-soo memutuskan untuk mendukung Jae-in.

Hasilnya sudah diketahui. Moon Jae-in harus mengakui keunggulan Park Geun-hye. Hal tersebut tidak menghalanginya untuk kembali maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2017. Perjuangan penganut Katolik Roma itu tidak sia-sia. Moon Jae-in terpilih sebagai Presiden Korsel periode 2017-2022 dan menggantikan Park Geun-hye.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini