Moon Jae-in bermitra dengan Roh Moo-hyun sebagai pengacara pembela hak asasi manusia (HAM) dan hak-hak sipil. Relasi keduanya sangat erat bahkan ketika Roh Moo-hyun terpilih sebagai Presiden Korsel 2003-2008. Ayah dua orang anak itu diangkat sebagai kepala staf kepresidenan.
Ketika Roh diselidiki atas kasus korupsi, Moon Jae-in tampil sebagai pembela. Namun, Moo-hyun kemudian bunuh diri pada 2009. Jae-in ditunjuk untuk mengurus pemakaman sang sahabat dan mengurus masalah pribadi mendiang Roo-hyun. Sosoknya dianggap mampu dipercaya dan membuat publik terpesona.
Ia dianggap oleh kalangan liberal sebagai sosok yang atraktif dan tepat untuk menantang calon dari Partai Saenuri yang beraliran konservatif, Park Geun-hye, pada Pilpres Korsel 2012. Moon Jae-in diangkat sebagai calon presiden dari Partai Demokratik Bersatu pada 16 September 2012.
Park Geun-hye, Moon Jae-in, dan Ahn Cheol-soo bertarung menuju Gedung Biru, Istana Kepresidenan Korsel. Ahn Cheol-soo kemudian mengundurkan diri setelah melihat jajak pendapat yang menyatakan dirinya dan Jae-in akan kalah telak dalam pertarungan tiga kandidat. Cheol-soo memutuskan untuk mendukung Jae-in.
Hasilnya sudah diketahui. Moon Jae-in harus mengakui keunggulan Park Geun-hye. Hal tersebut tidak menghalanginya untuk kembali maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2017. Perjuangan penganut Katolik Roma itu tidak sia-sia. Moon Jae-in terpilih sebagai Presiden Korsel periode 2017-2022 dan menggantikan Park Geun-hye.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.