Share

Sungai Brantas Tercemar, Ini Bahaya Senyawa Pengganggu Hormon bagi Manusia

Hari Istiawan, Okezone · Rabu 06 September 2017 20:45 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 06 519 1770670 sungai-brantas-tercemar-ini-bahaya-senyawa-pengganggu-hormon-bagi-manusia-NvpduwFqBQ.jpg Industri di hilir Sungai Brantas (Hari Istiawan/Okezone)

MALANG – Sungai Brantas di Jawa Timur yang tercemar berbagai limbah menebar berbagai penyakit warga yang tinggal di sekitarnya. Selain diare, yang membahayakan dari pencemaran sungai adalah senyawa pengganggu hormon (SPH), yang dikaitkan juga dengan beberapa penyakit yang sering diderita masyarakat seperti diabetes/DM tipe 2, dan juga kanker.

Di bagian hulu Brantas, Kota Malang misalnya, dari 2014 hingga 2016, angka penyakit diabetes masuk 10 besar penyakit yang ditangani. Meskipun angkanya mengalami penurunan, tetapi masih cukup besar. Masing-masing 25.067 kasus, 25.155 dan 13.815 kasus.

Sedangkan di Kota Batu, yang secara geografis berada di bagian hulu Brantas ternyata diare masih menempati urutan 10 besar penyakit yang ditangani. Pada 2014 mencapai 4.004 kasus, sedangkan 2016 tercatat 1.670 kasus.

Tidak jauh berbeda dengan Kota Batu, di Kabupaten Malang, penderita diare mencapai 54.869 tahun 2014 dan tahun 2015 turun menjadi 53.702 kasus diare yang ditangani. Kasus diare di Kabupaten Malang juga berada di posisi 4 dari 10 besar penyakit di Kabupaten Malang, setelah ISPA, darah tinggi, dan radang lambung.

(Baca juga: Petaka Air Sungai Brantas yang Tak Lagi Bermutu)

Dinas Kesehatan menilai kasus diare masih normal. Jumlah kasusnya pun terbilang fluktuatif setiap tahun. Peningkatan kasus diare terjadi pada momen lebaran maupun hari-hari besar lainnya.

Kadinkes Kabupaten Malang, Abdurrahman, mengakui, penyebab diare bukan sekadar pencemaran air sungai. Namun, bisa disebabkan dari makanan, minuman, alergi dan lainnya.

Warga di bantaran sungai, kata dia, memang rentan terjangkit penyakit diare. Perilaku BAB sembarangan dapat memicu terjadinya diare karena air yang dikonsumsi dari air sumur terpapar air sungai yang sudah tercemar.

“Yang penting indikator diare jangan sampai dilanggar. Penderita diare mendapat penanganan dan tidak sampai menyebabkan penderitanya meninggal dunia,” katanya.

Padahal dampak pencemaran sungai tidak hanya mengakibatkan penyakit diare saja atau gatal-gatal. Namun, yang lebih berbahaya dan yang perlu diantisipasi adalah penyakit kanker, diabetes, gangguan kehamilan seperti cacat lahir, dan juga autis. Kesemuanya itu juga disebabkan air yang tercemar senyawa kimia. IndoWater Cop menyebutnya sebagai senyawa pengganggu hormon (SPH).

(Baca juga: Sungai Brantas Tercemar Limbah, Diare hingga Kanker Meneror Warga)

Koordinator IndoWater Cop Riska Darmawanti menyatakan SPH terdeteksi pada media lingkungan (air dan sedimen), bahan pangan(ikan dan kerang/siput), dan manusia (darah, urin, rambut, dan air susu ibu). Kandungan SPH di lingkungan maupun organisme merupakan peringatan dini terhadap kesehatan ekosistem, organisme (individu dan populasi), serta manusia.

Ia mengatakan data terkait dampakpaparan SPH terhadap satwa liar dan manusia masih terbatas. “Di Indonesia mungkin ada tapi dipublikasikan terbatas, atau tidak dilepas ke publik,” kata Riska

Namun munculnya fakta 20 persenpopulasi bader (Barbonymus gonionotus) jantan di Kali Mas mengalami interseksualitasmenunjukkan, “Kandungan SPH di daerah hilir pada tingkatan yang mengkhawatirkan.”

Selain itu Riska menyebutkan, datayang berasal dari laboratorium patologi di Indonesia (1988 – 2007) menunjukkan kanker serviks, payudara, kelenjar getah bening, kulit dan nasofaring adalah jenis kanker yangpaling banyak ditemui.

Grafik rekapitulasi deteksi dini kanker serviks dan Payudara mulai 2007 hingga 2016 bisa dilihat di bawah ini.

“Melihat masifnya penggunaan pestisida besar kemungkinan kasus macam ini terjadi di daerah lain. Pencemaran SPHmerupakan ancaman yang nyata terhadap keseimbangan dan kesehatan ekosistem dan manusia,” kata Riska.

Sementara itu data dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2015, terkait deteksi dini kanker leher rahim dengan metode IVA dan kanker payudara dengan pemeriksaan klinis (CBE) menurut kabupaten/kota seperti terihat dalam tabel di bawah ini.

Riska menyebutkan, senyawa pengganggu hormon memang terkait dengan penyakit-penyakit tidak menular. Ia menyayangkan upaya menangani dampak pencemaran sungai Brantas baru sebatas melalui gerakan perilaku hidup sehat dan bersih (PHBS) bagi masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Kohar Hari Santoso ketika ditemui di Surabaya, Selasa (15/8), mengungkapkan setiap kabupaten/ kota memiliki rencana kerja mengatasi penyakityang diakibatkan karena pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran air sungai.

Terkait penyakit yang berpotensi dipicu karena mengonsumsi air tidak layak minum, di luar diare dan penyakit kulit, ia enggan menjawab. Ia percaya PDAM mempunyai standar terkait baku mutu. “Lagi pula tidak semua masyarakat Surabaya minum air PDAM. Kalaupun untuk diminum akan dimasak dulu,” ujarnya. (Bersambung)

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini