Image

Dikenal Aktif di Twitter, Ini Cuitan Indra J Piliang Sebelum Diciduk Polisi

Bayu Septianto, Jurnalis · Kamis, 14 September 2017 - 12:16 WIB
Politikus Partai Golkar Indra J Piliang (Foto: Okezone) Politikus Partai Golkar Indra J Piliang (Foto: Okezone)

JAKARTA - Politikus Golkar Indra J Piliang, terciduk aparat kepolisian dari Direktorat Reserse Narkoba karena diduga mengonsumsi narkoba. Indra selama ini dikenal aktif di media sosial, seperti Twitter.

Indra ditangkap pada Rabu 13 September 2017 kemarin sekira pukul 19.30 WIB. Ternyata sebelum peristiwa penangkapan, Indra sempat mencuitkan opini-opininya di Twitter. Indra sempat mencuitkan soal hasil survei CSIS terkait kepercayaan terhadap DPR yang rendah. Bahkan ia mengkritisi soal langkah Indonesia yang mengirimkan bantuan tahap pertama untuk pengungsi Rohingya.

"((Tahap Pertama)) Sebelum ini baru Tahap Wacana. Negara tetangga sdh kirimkan tentaranya dlm misi perdamaian," cuit Indra pada pukul 13.32 WIB, Rabu 13 September 2017 kemarin.

Baca juga: Terkejut Indra J Piliang Ditangkap karena Narkoba, Meutya Hafid: Orangnya Baik dan Kritis

Indra juga mencuit soal pencabutan SK badan hukum Perkumpulan Iluni UI. Dia juga me-retweet berbagai komentar soal hal itu. Indra kemudian menyampaikan opininya soal legislator yang berani bersuara dan yang diam saja. Berikut ini tweet-tweet-nya:

Legislator yg bersuara apa adanya, ternyata lbh tak disukai & bisa jd bakal dikadukan ke polisi, dibanding yg diam2 sj spt Ken Dedes.

Barangkali, suatu hari nanti, publik lbh memilih u/ votes batu2, candi2, atau kecapi, drpd nama2 org yg dikenal lantang bicara korsa.

Keanehan2 dlm demokrasi terus terjadi. Anda bercakap & bercakaran scr pribadi di WA, ujung2nya bukan belati, tp ktr polisi. Anda sehat?

Sjk kpn bicara pribadi berujung kpd ktr polisi? Apakah anda memang menyiapkan belati pd ujung jari, dg nama kuku? Itu namanya cubit2an.

Tonasi, intonasi, amplifikasi, implikasi, simplikasi dan ujung2nya adalah nasi uduk di ujung gang; adlh bagian dari komunikasi dewasa ini.

Bagi aktivis2 kelompok studi yg pernah diskusi selama berhari-hari, berdebat panjang lebar dg seduhan kopi; debat apapun adlh mustahak.

Kedangkalan nalar bisa langsung terlihat, ketika dlm setiap debat, atau ketika debat terhenti; anda emosi hanya krn lupa menyelipkan puisi.

Aktivis2 klpk studi boleh saja tampil kekurangan gizi, tp tak bakalan gemeretuk giginya, ketika mendengar perbedaan2 pandang di meja diskusi

Pabrifikasi dari aksara dlm bentuk meme2an dewasa ini bagai palu dogam yg menghantam dada demokrasi, krn dianggap sbg biang onar & gaduh.

Bagi generasi yg pernah terlibat -- mungkin jg selibat -- sbg milisi2 (org2 mailing list) dlm era yahoogroups; segala emosi telah mati.

(ran)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming