nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jepang Protes Korsel Sajikan Udang ke Trump, Kenapa Ya?

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Jum'at 10 November 2017 17:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 11 10 18 1811973 jepang-protes-korsel-sajikan-udang-ke-trump-kenapa-ya-vQZ1lHbq73.JPG Presiden Korsel Moon Jae-in bersulang dengan Presiden AS Donald Trump dalam jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Biru, Seoul (Foto: Jonathan Ernst/Reuters)

TOKYO – Pemerintah Jepang mengeluhkan menu makan malam yang disajikan oleh Pemerintah Korea Selatan (Korsel) saat menjamu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Sebab, Seoul menyajikan makanan laut seafood yang ditangkap di wilayah perairan yang menjadi sengketa dengan Tokyo.

Selain soal makanan, Negeri Sakura juga memprotes keputusan Negeri Ginseng untuk mengundang seorang bekas pekerja seks (pelacur) era Perang Dunia II. Sebagaimana diketahui, isu perempuan penghibur pada masa Perang Dunia menjadi sumber ketegangan antara Jepang dengan Korsel.

Media konservatif Jepang melabeli jamuan makan malam kenegaraan itu anti-Jepang karena menyajikan udang dari Dokdo, sebuah pulau bebatuan yang diberi nama Takeshima oleh Jepang. Kedua negara sama-sama mengklaim memiliki Dokdo/Takeshima yang saat ini berada di bawah kekuasaan Korea Selatan.

Dalam daftar tamu juga terdapat nama Lee Yong-soo, seorang perempuan yang dipaksa bekerja di rumah bordil oleh militer Jepang selama Perang Dunia II. Dari foto resmi Biro Pers Istana Kepresidenan Korsel, Presiden Trump terlihat memeluk perempuan berusia 88 tahun itu saat namanya diumumkan.

(Presiden AS Donald Trump memeluk Lee Yong-soo, bekas wanita penghibur yang dipaksa bekerja di rumah bordil oleh militer Jepang. Foto: Yonhap)

Kepala Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, mempertanyakan langkah Korea Selatan tersebut. Ia mengatakan, di tengah upaya memperkuat aliansi demi menekan Korea Utara, Korsel justru memberikan gestur diplomatik semacam itu.

“Ketika dibutuhkan koordinasi yang lebih kuat untuk mengatasi Korea Utara, dan ketika Presiden Trump sudah memilih Jepang dan Korsel sebagai perhentian, seharusnya tidak perlu ada tindakan-tindakan yang berdampak negatif,” ujar Yoshihide Suga, melansir dari The Guardian, Jumat (10/11/2017).

Korea Selatan lantas mengatakan bahwa undangan terhadap Lee Yong-soo tersebut dirancang untuk mengirim pesan kepada Trump agar dapat memiliki pandangan berimbang terkait isu perempuan penghibur serta sejarah perseteruan antara Jepang dengan Republik Korea (nama resmi Korsel).

Kantor berita Kyodo melaporkan, Jepang sudah menyampaikan nota diplomatik sebagai bentuk protes terkait kehadiran Yong-soo. Negeri Matahari Terbit menilai langkah itu justru berlawanan dengan semangat kesepakatan yang tercapai pada 2015 terkait isu wanita penghibur.

Jepang sepakat membayar kompensasi senilai satu miliar yen (setara Rp119 miliar) kepada 40 orang korban yang masih hidup. Sebagai imbalan, baik Korsel maupun Jepang sepakat bahwa isu tersebut sudah final dan tidak bisa lagi diutak-atik.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini