nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

AS Sepakat Jual Sistem Penangkal Rudal ke Jepang

ant, Jurnalis · Rabu 10 Januari 2018 19:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 10 18 1843122 as-sepakat-jual-sistem-penangkal-rudal-ke-jepang-ErkDXdkg1L.jpg Sistem pertahanan Aegis Ashore yang digunakan AS di Pangkalan Militer di Romania (Foto: Adel al Haddad/Reuters)

WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat setuju menjual penangkal rudal balistik ke Jepang guna mempertahankan diri dari ancaman Korea Utara (Korut). Penjualan tersebut dikonfirmasi oleh seorang pejabat Kementerian Luar Negeri AS pada Selasa 9 Januari.

Berita tentang penjualan tersebut muncul saat Korea Utara dan Korea Selatan mengadakan pembicaraan pertama mereka dalam lebih dari dua tahun untuk memecahkan sengketa peluru kendali nuklir Korea Utara.

Kesepakatan penjualan tersebut menyusul peluncuran peluru kendali Korea Utara, yang memuncak dalam setahun belakangan, beberapa di antaranya bahkan memasuki wilayah Jepang, serta uji nuklir keenam dan paling kuat. Tindakan itu mendorong upaya pimpinan AS untuk menguatkan sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang oleh Pyongyang disebut tindakan perang.

Kementerian Luar Negeri AS pada Selasa meminta Kongres menyetujui penjualan peluru kendali senilai sekitar Rp1,8 triliun, yang terdiri atas empat peluru kendali dan perangkat keras lain, yang dapat diluncurkan dari kapal perusak di laut atau dari sarana darat.

Penjualan penangkal peluru kendali balistik itu, yang dilaksanakan Raytheon Co dan BAE Systems, mengikuti komitmen Presiden Trump untuk memberikan kemampuan pertahanan tambahan kepada sekutu-sekutu perjanjian yang terancam oleh perilaku provokatif Korea Utara, sebagaimana kata pejabat tersebut.

Jepang pada Desember secara resmi memutuskan bahwa pihaknya akan memperluas pranata pertahanan rudal balistiknya dengan stasiun radar "Aegis" berbasis di darat dan rudal pencegat buatan AS.

Proposal untuk membangun dua baterai "Aegis Ashore" tanpa rudal kemungkinan akan menghabiskan biaya setidaknya Rp27 triliun dan kemungkinan belum bisa beroperasi sampai 2023 paling awal, ujar nara sumber yang mengetahui rencana tersebut kepada Reuters pada bulan Desember.

Menteri Pertahanan AS James Mattis dan Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera dalam pembicaraan melalui sambungan telepon pada Senin mengecam perilaku Korea Utara, yang sembrono dan tidak sah, kata pernyataan Pentagon.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini