Image

Tak Hanya Fredrich Yunadi, ICW Sebut 21 Advokat Pernah Terjerat Pidana Korupsi

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Minggu 14 Januari 2018, 15:28 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 14 337 1844733 tak-hanya-fredrich-yunadi-icw-sebut-21-advokat-pernah-terjerat-pidana-korupsi-aOjixwnNGg.jpg foto: Okezone

JAKARTA - Indonesia Corruption Watch (ICW) menyatakan tak hanya pengacara Fredrich Yunadi yang terjerat kasus hukum terkait tindak pidana korupsi (Tipikor). Setidaknya, dalam catatan ICW setidaknya ada 21 advokat yang juga tersandung kasus rasuah.

"Dalam catatan ICW per 13 Januari 2018 terdapat sedikitnya 22 orang (termasuk Fredrich) yang berprofesi sebagai advokat yang pernah dijerat dengan UU Tipikor," ujar Peneliti Bidang Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Lalola Easter di Kantor ICW, Jakarta Selatan, Minggu (14/1/2018).

Hal ini menjawab pernyataan Fredrich yang menganggap dirinya tak bisa dijerat pidana ketika menjadi kuasa hukum terdakwa Setya Novanto (Setnov) dalam kasus korupsi e-KTP. Dia berdalih bahwa dalam menjalankan tugas, seorang pengacara dilindungi dalam UU.

Tetapi, saat ini, pengacara yang nyentrik dan mengakui dirinya bergelimang harta itu, sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran diduga menghalangi dan merintangi proses penyidikan perkara korupsi e-KTP, dengan terdakwa Setnov.

 (Baca juga: Fredrich Yunadi: Tugas Saya Bela Setya Novanto dan Advokat Tak Dapat Dituntut Pidana!)

Menurut Lalola, pembelaan dan pendampingam yang dilakukan oleh seorang pengacara kepada kliennya, tidak harus mengurusi hal yang terjadi di luar prosea dan upaya hukum yang sedang ditempuh.

"Artinya perbuatan seperti melakukan penyuapan, pemesana kamar di rumah sakit, dan melakukan komunikasi dengan panitera atau hakim untuk tawar-menawar perkara bagi kliennya," papar Lalola.

 (Baca juga: Kubu Fredrich Yunadi Pertimbangkan Ajukan Gugatan Praperadilan)

(Baca juga: Peringatan KPK: Advokat & Dokter Lain Jangan Halangi Penanganan Kasus Korupsi!)

Dalam hal ini, lembaga antirasuah menilai, Fredrich dan Dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta, Bimanesh Sutarjo telah melakukan skenario jahat untuk mengamankan Setnov ketika 'diburu' oleh KPK beberapa waktu lalu.

 

Kedua orang itu dinilai 'merekayasa' peristiwa kecelakaan yang dialami Setnov. Tak hanya itu, KPK menyatakan kedua orang itu telah menyewa satu lantai di RS Permata Hijau. Namun, hal itu tentu dibantah keduanya.

Lalola menuturkan, dari 22 pengacara yang terjerat kasus korupsi, diantaranya terdapat tiga pola yang dilakukan oleh oknum advokat yaitu penyuapan dengan 16 pelaku, pemberian keterangan secara tidak benar, 2 pelaku dan menghalang-halangi penydikan kasus korupsi (4 pelaku).

"Kasus yang melibatkan 22 advokat tersebut mayoritas ditangani KPK (16 orang)selebihnya ditangani oleh Kejaksaan (5 orang) dan kepolisian (1 orang). Hukuman paling tinggi untuk advokat yang terbukti bersalah adalah Hapisan Hutagalung (divonis 12 tahun penjara)," papar Lalola.

Atas perbuatannya, Fredrich disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini