nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Begini Kronologi Pembebasan 6 WNI dari Penyanderaan di Libya

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Senin 02 April 2018 14:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 02 18 1880960 begini-kronologi-pembebasan-6-wni-dari-penyanderaan-di-libya-mxciXxlqX6.jpeg Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, dan Direktur PWNI-BHI Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal, memberi penjelasan upaya pembebasan enam ABK yang disandera di Libya (Foto: Wikanto Arungbudoyo/Okezone)

JAKARTA – Lewat serangkaian diplomasi, pihak Kementerian Luar Negeri RI akhirnya berhasil membebaskan enam warga negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok bersenjata di Benghazi, Libya. Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi mengatakan, upaya tersebut tidak lah mudah.

“Kami baru mendapatkan informasi pada 28 September 2017. Sejak itu semua kontak dilakukan, termasuk dengan pemilik kapal dan keluarga. Upaya tersebut tidak mudah karena ada masalah politik antara Benghazi dan Tripoli,” ujar Menlu Retno kepada awak media di Kementerian Luar Negeri RI, Pejambon, Jakarta Pusat, Senin (2/4/2018).

Sebagai informasi, wilayah Benghazi dikuasai kelompok bersenjata anti-pemerintah Libya yang berpusat di Ibu Kota Tripoli sejak 2011. Wilayah itu sempat jatuh ke tangan kelompok militan ISIS pada 2015 hingga akhir 2017. Kondisi politik tersebut membuat upaya pembebasan sedikit pelik.

BACA JUGA: Kemlu RI Bebaskan 6 WNI dari Penyanderaan Kelompok Bersenjata Libya

(Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, bersama para sandera dan keluarga. Foto: Wikanto Arungbudoyo/Okezone)

Direktur Jenderal Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal menerangkan, komunikasi dengan para sandera baru bisa dilakukan pada Desember 2017 dengan para sandera. Jalinan komunikasi awal itu penting guna mengetahui bahwa para sandera dalam keadaan baik.

Iqbal mengatakan, setelah memperhitungkan segala sesuatu dengan baik, tim pembebasan diperintahkan untuk berangkat pada 23 Maret lewat Tunisia. Dari Tunis, tim bergabung dengan pihak Kedutaan Besar RI (KBRI) di Tripoli untuk menuju Benghazi.

“Kami naik pesawat tidak terjadwal dari Tunisia langsung ke Benghazi. Target satu hari setelah tiba adalah pengambilan sandera. Tetapi sampai hari pertama dan kedua belum disepakati mekanisme pembebasan dan lokasi,” urai Lalu Muhammad Iqbal.

Pada akhirnya, sesuai kesepakatan serah terima dilakukan di pelabuhan ikan yang terbengkalai di Benghazi. Serah terima berlangsung pada 27 Maret sekira pukul 12.30 waktu setempat. Iqbal menjelaskan, upaya pembebasan tersebut dilakukan dengan diplomasi yang intensif.

“Tuntutan kelompok itu agak politis. Tetapi kami melakukan pendekatan intensif di antaranya menyatakan bahwa Indonesia tidak memilih pihak mana pun dalam konflik, Indonesia sahabat Libya, dan Indonesia dengan Libya sama-sama mediasi perdamaian di Filipina Selatan pada 1996, semacam itu lah,” ujar Iqbal.

Menurut Iqbal, salah satu faktor yang memudahkan pembebasan adalah asal muasal sandera dari Indonesia serta sesama Muslim. Berbagai upaya pendekatan itu mencapai hasilnya dengan pembebasan sandera yang dipulangkan lewat jalur darat secara aman meski harus melalui 12 pos pemeriksaan.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini