nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Houthi dan Yaman Sepakat Bebaskan Ribuan Tahanan dalam Perundingan Damai di Swedia

Indi Safitri , Jurnalis · Jum'at 07 Desember 2018 11:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 07 18 1988045 houthi-dan-yaman-sepakat-bebaskan-ribuan-tahanan-dalam-perundingan-damai-di-swedia-BJDGhj45LS.jpg Foto: Reuters.

STOCKHOLM – Pihak-pihak yang berperang di Yaman setuju untuk membebaskan ribuan tahanan pada Kamis, 6 Desember. Mediator PBB menyebut kesepakatan itu sebagai sebuah awal yang penuh harapan untuk pembicaraan damai pertama dalam beberapa tahun terakhir untuk mengakhiri perang yang telah mendorong jutaan orang di ambang kelaparan.

Dalam konferensi pers Swedia, Mediator PBB, Martin Griffiths mengatakan bahwa mempertemukan pihak-pihak yang bertikai di meja perundingan telah menjadi sebuah tonggak yang penting. Tidak ada pembicaraan damai yang digelar antara kedua belah pihak sejak 2016, dan upaya terakhir di Jenewa pada September gagal karena Houthi menolak hadir.

BACA JUGA: Pembicaraan Perdamaian Yaman Akan Dimulai di Swedia Pada Kamis

Griffiths mengatakan pertukaran tawanan yang disetujui pada awal pembicaraan akan menyatukan kembali ribuan keluarga. Komite Internasional Palang Merah mengatakan setidaknya 5.000 tawanan akan dibebaskan.

Perang Yaman yang secara luas dilihat di seluruh kawasan sebagai konflik proksi antara Arab Saudi dan Iran, telah mengalami kebuntuan selama dan mengancam jalur pasokan untuk memberi makan hampir 30 juta penduduk.

Kelompok Houthi menguasai Ibu Kota Sanaa dan daerah-daerah yang paling padat penduduknya, sementara pasukan pemerintah Yaman yang berbasis di Aden sulit mendapatkan kemajuan meski mendapatkan bantuan koalisi pimpinan Arab Saudi.

Tuan rumah Swedia menyerukan pembicaraan konstruktif untuk mengakhiri apa yang disebut Menteri Luar Negeri, Margot Wallstrom sebagai "malapetaka". Griffiths, diapit oleh dua delegasi, memberi tahu mereka untuk tidak mengabaikan hal tersebut.

Griffiths menginginkan kesepakatan untuk membuka kembali bandara Sanaa, menopang bank sentral dan mengamankan gencatan senjata di Hodeidah, pelabuhan utama negara itu, yang saat ini dikuasai Houthi.

Keinginan yang disampaikan Griffiths bisa mengarah pada gencatan senjata yang lebih luas untuk menghentikan serangan udara koalisi yang telah menewaskan ribuan warga sipil, dan serangan rudal Houthi di kota-kota Saudi.

BACA JUGA: Apa yang Bisa Dihasilkan dari Pembicaraan Damai Konflik Yaman di Swedia?

Sumber dari PBB yang dilansir Reuters, Jumat (7/12/2018) mengatakan bahwa kedua pihak masih jauh dari kesepakatan mengenai tiga masalah, terutama pada siapa yang harus mengelola pelabuhan Hodeidah dan apakah Houthi harus sepenuhnya mundur dari kota. "Hodeidah sangatlah kompleks," jelas sumber tersebut.

PBB mencoba untuk mencegah serangan besar-besaran terhadap Hodeidah, titik masuk untuk sebagian besar barang-barang komersial dan bantuan Yaman.

Kedua belah pihak telah memperkuat posisi di kota Laut Merah dalam pertempuran sporadis setelah eskalasi bulan lalu.

Rute utama lain di dalam dan keluar dari wilayah Houthi adalah bandara Sanaa, tetapi akses dibatasi oleh koalisi pimpinan Saudi yang mengontrol ruang udara.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini