(Baca Juga: 3 Direktur PLN Diperiksa KPK Terkait Suap PLTU Riau-1)
Setelah adanya komunikasi antara Nenie dan Tahta, keduanya melakukan pertemuan di sebuah cafe di di Plaza Senayan. Dari tempat tersebut, muncul kode 'one point two' yang dilontarkan Nenie kepada Tahta untuk kemudian dikomunikasikan ke Eni.
"Dengan Samin Tan saya tidak kenal. Saya hanya pernah ketemu satu kali dengan staf Pak Samin Tan namanya Bu Neni. Itu pun atas instruksi ibu (Eni). Kalau tidak salah pertemuannya Mei 2018," kata Tahta.
Selain itu, sambung Tahta, ada pertemuan lanjutan dengan Nenie di Menara Merdeka, Jalan Budi Kemulian, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan tersebut, Nenie memberikan satu bundel dokumen ke Tahta untuk diserahkan ke Eni.
Tahta kembali diminta oleh Nenie untuk bertemu di Menara Merdeka sekira pertengahan Juni 2018. Namun, Tahta hanya menemui staf Nenie. Staf Nenie kemudian menyerahkan tas yang berisi uang Rp1 miliar dengan kode 'buah satu kwintal'.
"Saya bertemu staf bu Neni, lalu diberikan tas olahraga warna hitam. Isinya saya tidak tahu apa. Cuma saya diminta tanda tangan di tanda terima. Dalam tanda terima itu, tulisannya 'buah satu kwintal'. Pas penyidikan saya baru tahu isi tasnya uang Rp1 miliar," terangnya.