nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Longsor Robohkan Sekolah di Kupang, Persiapan Siswa untuk UNBK Terganggu

Adi Rianghepat, Jurnalis · Sabtu 02 Februari 2019 09:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 02 340 2012802 longsor-robohkan-sekolah-di-kupang-persiapan-siswa-untuk-unbk-terganggu-YLIqOrAmaU.jpg Bangunan sekolah satu atap yang roboh karena longsor di Kupang. (Foto : Adi Rianghepat /Okezone)

KUPANG – Sebuah bangunan sekolah satu atap (Satap) Tunas Harapan di Kelurahan Manutapen, Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara (NTT) roboh karena longsor yang terjadi pada, Jumat 1 Februari 2019, sekira pukul 09.00 Wita. Meskipun tidak sempat menimbulkan korban jiwa, ambruknya dua ruang kelas gedung sekolah itu telah berakibat kepada kerugian material yang cukup.

"Ada satu ruang kelas dan satu ruang kantor sekolah yang terkikis dan roboh. Di dalamnya ada sejumlah perangkat berupa komputer dan laptop serta printer," kata Kepala Sekolah Satu Atap Tunas Harapan Yonisius Nenabu di Kupang, Sabtu (2/2/2019).

Longsor yang terjadi itu akibat banjir dan hujan yang melanda daerah tersebut dalam sepekan terakhir. Air pun mengikis fondasi sekolah itu dan akhirnya ambruk. Karena kondisi tersebut, menurut Yonisius, para siswa diliburkan mengingat kondisi cuaca hujan dan angin kencang masih terus terjadi.

"Kami sudah berkoordinasi dengan pihak komite sekolah untuk meliburkan para siswa. Kami tak mau ambil risiko korban jiwa," katanya.

ilustrasi

Dia berharap pemerintah segera melakukan aksi nyata membantu melakukan rehabilitasi sekolah ataupun tanggap darurat agar anak-anak tetap terus bisa bersekolah.

"Ada sebanyak 74 siswa yang sedang mempersiapkan diri untuk UNBK," katanya.

Sekolah satu atap itu terdiri dari SD, SMP dan SMA. Jumlah siswa SMA sebanyak 134 orang dan 74 siswa di antaranya sedang persiapan menghadapi UNBK. Siswa SMP sebanyak 29 orang dan SD sebanyak 42 orang. Sedangkan guru berjumlah 32 orang. Sekolah ini dibangun sejak 2010, dimulai dengan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) pada tahun 2019.

"Karena banyak peminat maka kemudian kami pisahkan untuk sekolah formal dan non formal, menjadi SD, SMP dan SMA. Tetapi untuk PKBM masih tetap berjalan hingga saat ini, mulai dari Paket A, B sampai C," kata Yonisius.

(Baca Juga : Selain Manado, Banjir dan Longsor Juga Terjang Minahasa)

Sementara itu terpisah Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Mohammad Ansor mengatakan, telah melihat langsung kondisi sekolah tersebut memang sangat memprihatikan karena musibah longsor itu. Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa para siswa tidak boleh putus sekolah.

"Kami akan menyampaikan kepada pemerintah dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTT, dan mengupayakan agar disediakan bantuan tenda darurat agar anak-anak kita tidak boleh berhenti sekolah," katanya.

 (Baca Juga : Tanah Longsor di Manado, Seorang Balita Tewas Tertimpa Beton Rumah)

Ansor juga mengaku segera berkoordinasi dengan sejumlah dinas terkait untuk melakukan rehabilitasi dan relokasi sekolah itu karena berada di daerah aliran sungai yang rawan longsor. "Ini daerah rawan longsor, bukan hanya lokasi sekolah ini saja tetapi rumah-rumah penduduk juga bisa terancam bahaya longsor," katanya.

Hal senada disampaikan Anggota Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo. Menurut dia, dengan kewenangannya akan meminta pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan untuk segera membangun gedung kelas baru. Namun demikian, dia meminta pihak sekolah untuk mau direlokasi karena lokasi saat ini sangat rentan longsor. Winston berharap para siswa tetap dipersiapkan untuk menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang sudah hampir tiba.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini