Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Polisi China Intimidasi Warga Uighur di Australia

ABC News , Jurnalis-Senin, 01 April 2019 |19:16 WIB
Polisi China Intimidasi Warga Uighur di Australia
Foto-foto warga Uighur yang hilang. Foto/ABC
A
A
A

Pemerintah China dituding telah melecehkan dan mengintimidasi komunitas migran Uighur di Australia, di tengah munculnya ancaman kemungkinan anggota keluarga mereka dapat ditahan.

ABC dalam laporannya telah memperoleh pesan teks yang tampaknya menunjukkan kontak antara pihak berwenang China dengan warga Uighur Australia yang meminta data pribadi mereka, termasuk paspor, SIM, dan alamat tempat kerja.

Sejumlah warga Uighur yang diwawancarai oleh ABC mengatakan mereka memilih menyerahkan informasi pribadinya karena khawatir anggota keluarga mereka yang tinggal di China dapat menanggung konsekuensi.

Berbicara dengan syarat tidak diungkapkan identitas mereka karena takut akan pembalasan ini, warga muslim Uyghur di Australia mengklaim polisi China telah menggunakan keluarga mereka di China untuk mengumpulkan informasi tentang kerabat mereka di luar negeri.

Foto/BBC

Salah satu warga Uyghur Australia, Dawud (bukan nama sebenarnya-red), mengatakan dia pertama kali menerima kontak dari keluarganya di Xinjiang pada September 2017, yang memintanya untuk kembali ke China atau menjelaskan kepada polisi mengapa dia tidak bisa kembali.

"Saya bukan penjahat," kata Dawud.

Dawud berkata bahwa dia memberi tahu polisi China: "Saya bukan warga negara China, bagaimana Anda bisa menanyakan hal seperti itu?"

"(Polisi China) berkata ... Saya bisa hanya memberikan informasi saya, nama saya, dan kemudian saya bisa mengunjungi kantor polisi setiap kali saya berkesempatan untuk mengunjungi kerabat saya," katanya.

BacaMinimnya Respons Negara Muslim Terhadap Penindasan Etnis Uighur

BacaPBB Klaim 1 Juta Minoritas Etnis Muslim Uighur Ditahan di Kamp-Kamp Politik China

Dawud mengaku dirinya berusaha menghindari kembali ke China (untuk menyerahkan identitas dirinya) dengan hanya mengirim surat kepada polisi dari tempat kerjanya untuk membuktikan bahwa dia memiliki pekerjaan.

Namun, dia menuturkan setelah itu tuntutannya semakin meningkat.

"Ketika saya mengirim email itu (ke keluarga saya), mereka meneruskannya kepada polisi dan polisi mengatakan saya sekarang harus mengirim data identitas anak-anak saya dan bahkan paspor istri dan anak-anak saya serta foto-foto terbaru mereka," katanya.

Dia mengatakan dirinya khawatir berbicara dapat mengakibatkan keluarganya di China dapat ditempatkan di "kamp pendidikan ulang" pemerintah yang berkembang pesat.

"Kekhawatiran utamanya masih tentang kerabat kami di sana ... mereka tidak bisa berbicara atas nama mereka sendiri.

"Ini seperti mafia, tidak berbeda dengan mafia."

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement