Kampung di Kota Malang Pasang 50 CCTV untuk Awasi "Serangan Fajar"

Avirista Midaada, Jurnalis · Rabu 17 April 2019 00:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 16 606 2044413 kampung-di-kota-malang-pasang-50-cctv-untuk-awasi-serangan-fajar-45ddRoRkkY.jpg Kampung di Kota Malang Punya Cara Awasi Politik Uang Jelang Pemilu 2019 (foto: Avirista Midaada/Okezone)

KOTA MALANG - Praktek pembagian uang menjelang Pemilu atau kerap diistilahkan dengan "Serangan Fajar" yang masif membuat warga Jalan Prof. Muhammad Yamin, Kampung Kidul Pasar, Kelurahan Sukoharjo, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, mendeklarasikan diri sebagai kampung anti politik uang.

Dengan memasang sebuah spanduk dan 76 poster penolakan politik uang, warga serempak menolak politik uang di 2 RW yakni RW 6 dan 7 di wilayahnya.

Kampung di Kota Malang Punya Cara Awasi Politik Uang Jelang Pemilu (foto: Avirista Midaada/Okezone)

Baca Juga: Polisi Bakal Tembak di Tempat Pengacau Pemilu 

Menurut Ketua RT 3 RW 7, Azwin Muzakki, terjeratnya mayoritas anggota DPRD Kota Malang periode 2014-2019 karena suap menyebabkan mereka akhirnya menolak politik uang saat memilih.

"Ada 1 spanduk dan 76 poster yang disebar di 2 RW. Kami memang sepakat bersama warga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk menolak politik uang dan mendeklarasikan diri sebagai kampung anti politik uang. Kami ingin punya wakil - wakil rakyat dan pemimpin yang bersih dengan ongkos politik yang tak mahal," terang Azwin.

Bahkan untuk merealisasikan hal tersebut, pengurus kampung memasang puluhan CCTV di beberapa titik di 9 RT di RW 7.

"Kalau di RW 7 kita terdapat 50 kamera CCTV. Itu untuk mengawasi keamanan termasuk orang baru yang dianggap mencurigakan. Kita juga awasi bilamana ada pembagian uang melalui CCTV tersebut," ungkapnya kembali.

Kampung di Kota Malang Punya Cara Awasi Politik Uang Jelang Pemilu (foto: Avirista Midaada/Okezone)	 

Nantinya bila dari pengamatan CCTV terbukti ada orang yang membagikan uang ke warga, pengurus RT maupun RW akan melaporkan ke pihak terkait.

"Kita akan melaporkan kepada pihak terkait, kalau perlu dilaporkan akan segera dilaporkan ke bawaslu atau panwas bila ada pemberian uang," bebernya, saat ditemui okezone, Selasa (16/4/2019).

Azwin juga menjelaskan, praktek pemberian uang ke masyarakat jelang Pemilu di Kampung Kidul Pasar, Sukoharjo, Klojen, Kota Malang ternyata benar adanya. Dia menambahkan, banyak dari anggota dewan yang terpilih di periode sebelumnya memberikan imbalan uang maupun barang saat masih menjadi calon legislatif (Caleg).

"Saat saya memimpin, ada beberapa caleg atau timses yang mendekati dengan cara tersebut. Pada Pemilu 2014 marak banyak caleg yang terpilih kemarin menggunakan hal tersebut. Makanya kami trauma apalagi ada kasus suap itu," ujar Azwin.

Sementara warga RT 3, Lukman Hidayat menyatakan bila edukasi menolak politik uang dilandasi dengan kekecewaan warga terhadap para wakil rakyat di Malang yang terlibat kasus suap.

Kampung di Kota Malang Punya Cara Awasi Politik Uang Jelang Pemilu (foto: Avirista Midaada/Okezone)	 

"Ini berkaca pada suap yang melibatkan hampir semua anggota dewan Kota Malang. Kami ingin Malang dipimpin oleh anggota dewan yang bersih dan orang - orang baik," ucapnya.

Baca Juga: Bawaslu Catat Ada 25 Kasus Politik Uang di Masa Tenang Pemilu 2019 

Dia pun membenarkan bila memang praktek pemberian uang dan barang sering dilakukan di wilayahnya. "Memang ada sebelum - sebelumnya, tapi dengan adanya deklarasi kampung anti politik uang ini mereka yang mau ngasih sudah enggan duluan," bebernya.

Hal serupa diakui warga RT 4, Wahyu Hidayat yang menyebut bila pembagian uang dalam jumlah tertentu begitu masif dilakukan menjelang Pemilu. "Kalau yang periode kemarin sering dan masif. Kami harus berani melaporkan, warga pun juga harus didorong. Kami ingin Malang lebih baik lagi," tutur dia.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini