Evaluasi Sistem Pemilu Diminta Tidak Cuma Melihat Banyaknya Korban Jiwa

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Kamis 25 April 2019 15:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 25 605 2047957 evaluasi-sistem-pemilu-diminta-tidak-cuma-melihat-banyaknya-korban-jiwa-hqrE6lnlF4.jpg Diskusi soal evaluasi pemilu yang diadakan Formappi (Foto: Sarah/Okezone)

JAKARTA - Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi), Jerry Sumampow menyebutkan bahwa banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia bukan menjadi salah satu faktor utama untuk dilakukannya wacana evaluasi untuk Pemilu berikutnya.

Ia menilai, faktor tersebut masih terlalu dangkal untuk dijadikan bahan evaluasi oleh penyelenggara pemilu. Pasalnya, menurut Jerry korban yang meninggal dunia juga terjadi pada Pemilu sebelumnya yakni 2014.

"Cuma menjadikan isu begini untuk mengevaluasi sistem, ini salah kaprah, karena isu kemanusiaaan untuk mengevaluasi sistem, itu enggak pas," ujar Jerry Sumampow di forum diskusi Evaluasi Pileg & Potret Parlemen Baru di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (25/4/2019).

"Kalau kita kihat wacana evaluasi sistem itu karena banyak petugas meninggal. Padahal, banyaknya petugas yang meninggal ini ada faktor lain. Pada 2014 banyak juga yang meninggal, dan perbandingannya tidak sama. Kita tentu prihatin dengan para korban, saya setuju kita berikan perhargaan," tambahnya.

(Baca Juga: Petugas Pemilu 2019 di NTT yang Meninggal Bertambah Jadi 7 Orang)

Jerry menambahkan kalau penambahan korban yang meninggal dunia dari Pemilu 2014 merupakan hal yang wajar. Hal tersebut dikarenakan pada Pemilu 2019 terjadi penambahan jumlah tempat pemungutan suara (TPS) sebanyak 800 ribu.

"Pada 5 tahun lalu TPS itu cuma 600 ribu, sekarang 800an ribu. 5 tahun lalu petugas TPS tidak ada di semua TPS. Jadi ada penambahan orang yang cukup siginifikan. Jadi makin banyak orang yang terlibat resikonya juga makin besar," papar Jerry.

Ia mengatakan, kalau angkanya besar ada kewajaran jika jumlah petugas yang berguguran karena jumlahnya pun semakin banyak.

"Kita ini mengevaluasi sistem dengan variabel dan indikator yang tidak tepat. Saya kira kita akan mengulangi yang sama 5 tahun lagi. Kalau kita evaluasi sistem ini dibuat yang pertama ada 3 maksud. Pertama penguatan sistem presidensial, kedua efektifitas anggaran atau penghematan, ketiga mobilisasi pemilih," tuturnya.

(aky)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini