nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dianggap Hina Yesus Saat Amankan Demonstrasi, Kepolisian Hong Kong Diseret ke Pengadilan

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 20 Juni 2019 13:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 20 18 2068692 dianggap-hina-yesus-saat-amankan-demonstrasi-kepolisian-hong-kong-diseret-ke-pengadilan-tfV2JUM1IE.jpg Bentrokan antara polisi dengan demonstran di Hong Kong, 12 Juni 2019. (Foto: Reuters)

HONG KONG – Warga Hong Kong meluncurkan tindakan yudisial pertama terhadap penanganan yang dilakukan polisi pada demonstrasi massal pekan lalu, menuntut mereka meminta maaf atas apa yang disebut sebagai komentar penistaan terhadap agama Kristen.

Dokumen pengadilan pada Rabu menunjukkan bahwa Alam Tam Chi-fai yang mengajukan kasus ini, berpendapat bahwa komentar "minta Yesusmu turun dan menemui kami" yang diduga dilontarkan oleh polisi dalam bentrokan dengan demonstran pada 12 Juni sebagai sesuatu yang menghujat dan diskriminatif.

Dia mengatakan Ordonansi Kepolisian melarang petugasnya memiliki bias terhadap agama seseorang saat polisi itu menjalankan tugasnya.

BACA JUGA: Seperti Membelah Laut, Video Viral Tunjukkan Demonstran Hong Kong Beri Jalan untuk Ambulans

"Memanggil 'seseorang yang tidak wajar' yaitu Yesus Kristus jelas tidak masuk akal dan tidak logis," tulisnya dalam dokumen pengadilan sebagaimana dilansir South China Morning Post, Kamis (20/6/2019).

"Menyusul pengungkapan dalam berita, (komentar) itu telah membuat semua pengikut, termasuk saya, merasa tersinggung dan tidak nyaman," tambahnya, mengarahkan tindakan pengadilan pada komisioner polisi.

Tam telah meminta kepala polisi untuk mengeluarkan permintaan maaf secara publik. Dia juga menuntut Pengadilan Tinggi membuat putusan bahwa komentar polisi itu melampaui kekuasaan yang diberikan kepada para petugas di bawah Ordonansi Kepolisian, dan karenanya "tidak sah dan tidak masuk akal".

Komentar kontroversial itu diangkat oleh seorang pendeta pada pertemuan tokoh-tokoh gereja yang diadakan untuk membahas protes pada Kamis lalu.

Pertemuan itu terjadi sehari setelah Admiralty, pusat keuangan utama Hong Kong, terhenti karena beberapa bentrokan antara demonstran dan polisi.

Pendeta yang berada di demonstrasi itu, mengatakan bahwa petugas polisi yang dimaksud melihat kelompok itu mengenakan jubah kepasturan, sebelum mengatakan pada mereka: "Minta Yesusmu turun dan menemui kami."

Demonstrasi tersebut terjadi karena kekhawatiran dan rasa frustrasi warga Hong Kong terhadap rencana pemerintah untuk mengajukan rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang akan membuat warga Hong Kong dapat dikirim ke China untuk diadili.

Polisi secara resmi menyebut peristiwa itu sebagai kerusuhan dan menembakkan 150 peluru gas air mata pada Rabu pekan lalu, hampir dua kali lipat jumlah yang mereka gunakan untuk membubarkan massa selama protes pro-demokrasi Occupy pada 2014. Petugas juga menggunakan beanbag dan peluru karet, sebuah langkah yang memiliki menuai kritik keras.

BACA JUGA: Pemimpin Hong Kong Minta Maaf Atas Kontroversi dari RUU Ekstradisi

Komentar yang dianggap menghina agama itu bukan satu-satunya kesalahan yang telah membuat kepolisian mendapat sorotan tajam karena operasi mereka pekan lalu.

Salah satu petugas, di antara beberapa yang telah dituduh menargetkan wartawan, tertangkap kamera berteriak "lapor ibumu" pada seorang anggota pers, yang merupakan variasi dari kata-kata kasar dalam bahasa Kanton yang populer.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini