nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warga Singkawang Korban Kawin Kontrak di China Sering Disiksa Keluarga Suami

Antara, Jurnalis · Rabu 26 Juni 2019 08:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 26 340 2070979 warga-singkawang-korban-kawin-kontrak-di-china-sering-disiksa-ezywB585r0.jpg Kapolres Singkawang AKBP Raymond M Masegi bersama IN dan Silvia korban kawin kontrak di China. (Foto: Rudi/Antaranews)

PONTIANAK – Cukup banyak masyarakat Indonesia yang kawin kontrak di Tiongkok (China). Pengalaman mereka pun berbeda-beda, ada yang bernasib baik, ada pula yang bernasib pilu.

Seperti dialami IN, warga Kota Singkawang, Kalimantan Barat, yang selama tujuh bulan tinggal bersama sang suami dan mertua di Tiongkok selalu mengalami kekerasan dari pihak keluarga.

"Kehidupan saya di sana (Tiongkok) tidak sesuai dengan harapan," cerita IN, Rabu (26/6/2019), seperti dikutip dari Antaranews.

Selama berada di Tiongkok, IN selalu dipaksa bekerja dan parahnya ada sedikit kekerasan dari pihak keluarga. "Kekerasannya seperti ditendang, dicekik, dan dipukul," ujar dia.

IN bersyukur berkat bantuan pihak Polres Singkawang dan Silvia (warga Singkawang), akhirnya bisa pulang ke Singkawang untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Dia mengatakan, jika tidak ada mereka, mungkin tidak bisa pulang dan disiksa terus.

IN mengatakan keinginannya untuk kawin kontrak dengan orang Tiongkok hanya semata-mata untuk mengubah hidup agar lebih baik. Semua itu berawal dari iming-iming seseorang (agen) yang menjanjikan bisa mengubah hidupnya.

(Baca juga: Modus Perjodohan, 29 Perempuan Indonesia Jadi Korban Perdagangan Manusia ke China)

Iming-imingnya, setelah nikah dirinya diperbolehkan pulang ke Singkawang setelah berada di Tiongkok selama dua bulan, namun kenyataannya dirinya tidak diperbolehkan pulang. Tidak sesuai perjanjian, dirinya justru dipaksa bekerja.

Sebelum berangkat ke Tiongkok, IN sempat menerima uang Rp20 juta dari agen. Uang sebanyak itu sebagai mahar pernikahan. Sementara untuk proses pernikahan di Singkawang, prosesnya biasa-biasa saja.

Ilustrasi perdagangan manusia. (Foto: Okezone)

Tiba di Tiongkok, IN langsung disuruh kerja menjahit baju dan sarung tangan. Hal ini selalu dibangkang, karena sesuai perjanjian sebelum berangkat ke Tiongkok, dirinya tidak diperbolehkan kerja.

Begitu sampai di sana, tidak sesuai perjanjian, dia justru dipaksa bekerja. Dikarenakan tidak tahan diperlakukan semena-mena oleh keluarga sang suami, ada niat IN untuk melarikan diri.

Hal itu bahkan sudah sering dipikirkannya, namun sulit dilakukan karena terus diancam oleh pihak keluarga suami.

(Baca juga: Polri Tangkap Suami-Istri Pelaku Perdagangan Manusia ke China Bermodus Pernikahan)

Beruntung dirinya dibantu Ivan (Humas Polres Singkawang) dan salah satu warga Singkawang bernama Silvia. Berkat bantuan kedua orang ini, dirinya bisa kabur dari rumah suaminya dan tiba di Singkawang pada Senin 24 Juni.

Kepada masyarakat Singkawang, IN berpesan agar tidak mudah percaya dengan bujuk rayuan atau iming-iming untuk bisa mengubah hidup apabila mau dibawa ke Tiongkok.

Kalaupun ada masyarakat yang ingin bekerja di sana, IN berharap tidak mendapat nasib serupa seperti yang dialaminya.

Keluarga Menyesal Izinkan IN Lakukan Kawin Kontrak

AM, ibu kandung IN, mengatakan keluarganya sangat menyesal telah memberikan izin IN kawin kontrak dengan warga Tiongkok.

Sebelum mengambil keputusan, AM sudah memberikan kesempatan kepada IN untuk berpikir panjang. Tapi karena anaknya ngotot, AM juga tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga sebagai orangtua hanya bisa mendoakan yang terbaik.

Namun ketika sampai di Tiongkok, keadaan yang dialami IN tidak sesuai dengan yang diharapkan. Meski demikian, komunikasi via ponsel masih terbilang lancar.

"Kita hanya bisa mendengar lewat telepon kalau dia sedang meringis, menangis, dan lainnya," ujar AM.

Ilustrasi perdagangan manusia. (Foto: Ist)

AM selaku orangtua hanya bisa menenangkan IN untuk bersabar menghadapi kehidupan yang dialami. Kejadian ini akan menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam memutuskan suatu masalah.

Kepada orangtua lainnya, AM mengimbau untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Lebih baik cari jodoh di Indonesia saja, meski hidup sederhana.

"Asalkan kita bisa kumpul dan berkomunikasi," pesan AM.

Polres Singkawang Upayakan Pemulangan NP

Terpisah, Kapolres Singkawang AKBP Raymond M Masengi mengatakan setelah berhasil memulangkan IN, pihaknya saat ini juga sedang mengusahakan proses pemulangan warga Kalimantan Barat lainnya berinisial NP yang diduga juga menjadi korban kawin kontrak di Tiongkok.

Dia menjelaskan, IN adalah warga Singkawang, sedangkan NP warga Kabupaten Landak. Namun dikarenakan kendala proses administrasi dan paspornya ditahan oleh mertua, NP sampai saat ini masih tertahan di KBRI Beijing.

Tapi saat ini sudah diproses segala persyaratannya, seperti surat-surat dan administrasi lainnya untuk dikembalikan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat NP kembali.

"Meski orang Landak, tetap kita bantu dan doakan agar proses pemulangan NP berjalan dengan baik," ujar Raymond.

(Foto: Rudi/Antaranews)

Ia berharap apa yang dialami IN tidak sampai dialami warga Singkawang lainnya. Dengan adanya cerita viral kawin kontrak akhir-akhir ini, dirinya menegaskan Polres Singkawang sudah berbuat jauh-jauh hari sebelum permasalahan ini muncul.

Pihaknya sudah berbuat dan sudah menentukan langkah-langkah dan hasilnya juga sudah ada. Bahkan, dirinya sudah memerintahkan anggota mencari orang-orang yang terlibat, seperti "mak comblang" yang coba-coba menjebak, memperdagangkan, ataupun hal-hal yang dapat melanggar perbuatan hukum untuk mengirim atau mengawinkontrakkan seperti yang dialami IN dan NP.

Raymond berharap di Singkawang tidak ada lagi kasus seperti yang dialami IN. Hal yang paling penting adalah orangtua jangan selalu beranggapan bahwa ini merupakan jalan keluar untuk mengubah hidup keluarga, karena belum bisa dipastikan kebenarannya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini