KEPOLISIAN menangkap seorang pria bernama Para Wijayanto yang disebut sebagai pemimpin Jamaah Islamiyah (JI).
Para Wijayanto dibekuk bersama istrinya, MY (47), di Hotel Adaya, Jalan Kranggan, Jati Sampurna, Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (29/6), pukul 06.12 WIB.
Adapun tiga pria yang disebut sebagai orang kepercayaan Para Wijayanto ditangkap di lokasi berbeda.
Polisi menyatakan Para Wijayanto yang menjadi buronan sejak 2008 silam merupakan pemimpin JI setelah kelompok itu dilarang keberadaannya pada 2007. Di bawah kepemimpinan Para, JI disebut telah mengirim sejumlah pemuda berlatih militer ke Suriah.
Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, menilai penangkapan Para Wijayanto dan sejumlah orang kepercayaannya bukan akhir dari organisasi yang berafiliasi dengan jaringan teroris internasional, Al-Qaeda.
"Kalau satu atau dua orang ditangkap walaupun orang yang paling senior, tidak berarti organisasi akan mati," katanya kepada wartawan Muhammad Irham yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (02/07).
Di bawah kepemimpinan Para Wijayanto, kata Sidney, JI lebih fokus pada dakwah, pendidikan, dan rekrutmen anggota baru.
Menurutnya, JI menghindari aksi kekerasan yang dapat mengakibatkan penangkapan massal anggotanya terutama pascabom Bali. Tujuannya untuk membangkitkan kembali organisasi suatu saat nanti.
"Jadi mereka memutuskan untuk sementara, kekerasan di Indonesia adalah sesuatu yang harus dihindari," kata Sidney.

Adakah perbedaan antara JI dan ISIS?
Menurut Sidney, jaringan ISIS lebih berbahaya untuk jangka pendek. Para pendukung ISIS bisa sewaktu-waktu melakukan aksi teror.
Namun, tambahnya, JI lebih mengkhawatirkan dalam jangka panjang. Organisasi ini memiliki strategi perencanaan hingga 25 tahun ke depan untuk mendirikan negara Islam.
"Suatu saat nanti JI bisa memutuskan bahwa memang sudah waktunya untuk melakukan kekerasan lagi. Kalau kekerasan bisa menolong mereka mendirikan satu negara Islam di Indonesia," kata Sidney.
Hal yang paling dikhawatirkan dari JI, lanjut Sidney, ketika pengikutnya tak lagi sejalan dengan para pemimpin dan memilih untuk membuat organisasi sempalan.
"Masih ada bahaya dari sel-sel ISIS yang tidak ada hubungan dengan JI. Mungkin juga dari kelompok muda dari JI sendiri yang lebih bahaya dari Para Wijayanto," katanya.
Analisis Sidney Jones dikuatkan mantan anggota jaringan teroris yang berafiliasi dengan JI, Sofyan Tsauri.
Menurut Sofyan, pergerakan JI akan selalu berada 'di bawah tanah'.
"Para anggotanya banyak, ikut ormas yang lain. Tapi mereka punya induk daripada jamaah mereka, dan itu tak akan pernah mati," katanya saat dihubungi BBC News Indonesia, Selasa (02/07).
Sofyan memperkirakan pascapenangkapan Para Wijayanto, JI akan segera mencari pemimpin baru. Salah satu syarat menjadi pemimpin JI, kata Sofyan, adalah memiliki kemampuan militer dan intelijen.