Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pemimpinnya Ditangkap, Inikah Akhir Jamaah Islamiyah di Indonesia?

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 03 Juli 2019 |12:52 WIB
Pemimpinnya Ditangkap, Inikah Akhir Jamaah Islamiyah di Indonesia?
Polisi memperlihatkan foto Para Wijayanto. (Foto: AFP/Getty Images)
A
A
A

Hal ini sudah dilakukan selama Para Wijayanto mengirimkan anggotanya untuk berlatih militer di Suriah hingga enam kali sejak 2013 hingga 2018 lalu.

"Tentu akan ada Amir (pemimpin) lagi yang baru. Begitu memang dibuatnya," katanya.

Sofyan melanjutkan, eksistensi JI baru akan muncul ketika situasi di suatu wilayah atau negara sedang konflik besar.

Ketika negara tidak berkonflik, JI lebih beraktivitas untuk melakukan perekrutan dan dakwah. "Sampai pengaderan besar, ketika kekuasaannya sudah terukur, baru dia memproklamirkan," katanya.

"JI ini jihad tamkin (jihad mengambil kekuasaan dan pemerintahan), bukan jihad nikayah (jihad dilakukan kapan saja untuk menunjukkan eksistensi)," imbuh Sofyan.

Siapa Para Wijayanto dan bagaimana sepak terjangnya?

Dari keterangan polisi, Para Wijayanto alias Abang alias Aji Pangestu alias Abu Askari alias Ahmad Arief alias Ahmad Fauzi Utomo sudah menjadi buronan sejak 2008.

Lelaki kelahiran Subang, Jawa Barat, ini merupakan lulusan S-1 teknik sipil di salah satu universitas ternama di Jawa Tengah. Ia juga merupakan alumni dari pelatihan militer di Moro, Filipina, Angkatan III tahun 2000.

"Kemampuan merakit bom dia miliki dengan kelompok Noordin M. Top," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo.

Para Wijayanto, sebagaimana dipaparkan Dedi, berperan mengendalikan aktivitas organisasi termasuk logistik dan pembentukan pasukan khusus yang dipimpin oleh terduga teroris berinisial K yang ditangkap pada Mei 2019 lalu.

Selain itu, Para Wijayanto disebut mengetahui dan menyetujui pemberangkatan rekrutan JI ke Suriah. Mereka belajar militer dan perang dengan organisasi Al-Qaeda.

Pemberangkatan anggota JI ini ditengarai telah dilakukan sebanyak enam gelombang sejak 2013 hingga 2018. Sebagian besar telah kembali ke Indonesia.

"Mereka yang kembali ke Indonesia dan ditangkap pada bulan Mei 2019 rata-rata mempunyai kemampuan intelijen, militer secara khusus termasuk pembuatan bom, roket dan sniper," ujar Dedi.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement