"Labuan Bajo juga merupakan satu dari 10 Bali Baru, atau 10 destinasi prioritas yang menjadi habitat komodo, satu-satunya 'dinosaurus' yang masih hidup di muka bumi. Bawah lautnya, Anda semua telah membuktikan betapa cantiknya alam bawah laut Labuan Bajo. Kini kami bersyukur kami masuk ke dalam super prioritas," papar Agustinus.
Belum lagi Goa Batu Cermin yang terletak tak jauh dari pusat Kota Labuan Bajo. Di destinasi ini wisatawan dibawa berpetualan ke dalam perut bumi. Goa ini memiliki sebuah lubang di bagian atas yang menjadi tempat masuknya sinar matahari. Sinar tersebut kemudian mengenai permukaan air yang memantul di dinding batu dan merefleksikan bayangan air seperti cermin.
Lantas bagai mana budayanya? Kekayaan budaya di Labuan Bajo sungguh tak ternilai. Tari Caci, Rangkuk Alu, Ja’i, dan atraksi Nenggo Mbata selalu bisa membuat wisatawan terpesona.
Lalu paling fenomenal tentu Tari Caci yang merupakan tarian perang asal Kabupaten Manggarai. Wisatawan selalu terpukau menyaksikan ketangkasan dua penari laki-laki yang saling ’’bertarung’’ menggunakan cambuk dan perisai. Mereka memainkan cambuk yang terbuat dari kulit sapi dengan hentakan yang cepat dan keras.
Uniknya luka yang timbul akibat hantaman cambuk seolah tidak mereka hiraukan. Bahkan, gelak tawa serta nyanyian pemain mengiringi adegan menegangkan ini. Tidak ada rasa dendam antara kedua pemain Caci, meskipun harus bersimbah darah dalam permainan.
"Labuan Bajo itu bukan alamnya saja yang keren, budayanya juga paten. Ini membuat Labuan Bajo destinasi yang komplit. Sangat pas untuk menjadi destinasi berlibur wisatawan Jepang. Makanya kami memboyong mereka ke Labuan Bajo," ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar Nia Niscaya yang juga diamini Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran II Regional II Kemenpar, Ardi Hermawan.